Kamis, 28 Mei 2009

Pernyataan Sikap "Tolak Politisasi Etnis Tionghoa oleh Organisasi Kemasyarakatan Tionghoa Indonesia"

 

Kebebasan dan kesetaraan adalah dua prasyarat penting dalam membangun kehidupan politik yang demokratis. Kedua nilai inilah yang berhasil ditenggelamkan pada titik nadir oleh rezim otoritarian Orde Baru. Meski belum paripurna, proses demokratisasi pasca reformasi 1998 berhasil membuka sumbat ruang kebebasan dan mentransformasikan relasi–relasi timpang hasil rekayasa rezim menjadi lebih demokratis. Salah satu gambarannya tampak pada kasus Tionghoa. Selama Orde Baru etnis Tionghoa diposisikan menjadi "musuh bersama" penguasa yang secara politik dibungkam. Pola yang sama juga kita temukan dalam literature sejarah Nusantara di era kerajaan.

Itulah mengapa sejarah juga mencatat bahwa etnis Tionghoa secara politik dan kebudayaan sering kali terjebak dalam hubungan patronase yang dibuat oleh rezim orde baru. Kini pasca gerakan reformasi pola relasi ini perlahan mulai diretas. Dari situ, adalah kewajiban bagi masyarakat Tionghoa Indonesia bersama-sama dengan warga lainnya untuk bersikap dan berdiri dalam penghayatan kewarganegaraan dan

demokratisasi baru yang mengedepankan kesetaraan dan keyakinan demokratisnya selaku warga negara.

Berpijak dari kacamata ini dengan adanya pernyataan sejumlah elemen organisasi kemasyarakatan Tionghoa Indonesia beberapa waktu belakangan ini yang secara terbuka menyatakan dukungan politik kepada calon-calon presiden tertentu baik melalui media massa cetak dan elektronik, maka kami menyatakan sikap sebagai berikut:

Pertama, Belajar dari sejarah dukung mendukung suatu kekuasaan dengan mengatas-namakan etnis adalah suatu hal yang kontraproduktif. Cara semacam itu adalah ekspresi minority complex syndrome warisan jaman penjajahan dan rezim Orde Baru yang perlu dikikis.

Kedua, Klarifikasi dan artikulasi etnis dalam suatu mobilisasi politik yang sarat kepentingan akan menghasilkan dan membuka jurang ketegangan sosial yang sama sekali tidak perlu bahkan bisa membahayakan karena dapat menyulut politik berbasis identitas.

Ketiga, Mobilisasi semacam itu secara psikologis akan menempatkan kembali masyarakat Tionghoa Indonesia dalam hubungan patronase dengan kekuasaan dan penguasa, Patronase semacam ini selain berpeluang bagi kembali terulangnya dominasi juga sangat tidak sesuai dengan cara-cara berpolitik reformasi.

Keempat, Dukung mendukung dalam kebebasan berpolitik adalah hal yang wajar dan sah, namun perlu diingat agar dukungan tersebut jangan sampai membawa masyarakat Tionghoa Indonesia dalam politisasi etnis dan klaim bahwa seluruh masyarakat Tionghoa Indonesia hanya mendukung salah satu calon presiden.

Hal tersebut menyesatkan bahkan cenderung eksploitatif, karena kenyataannya masyarakat Tionghoa Indonesia sangat majemuk dalam orientasi politik, partai, agama, dan ideologi.

Kelima, Kebebasan berekspresi masyarakat Tionghoa dalam budaya dan politik saat ini tidak terlepas dari peran serta dan jasa para presiden Republik Indonesia seperti B.J Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sesuai masanya, dan bukan mutlak jasa salah seorang presiden semata.

Keenam, Menghimbau para tokoh dan pimpinan organisasi kemasyarakan Tionghoa Indonesia untuk lebih bijaksana dalam melakukan kegiatan politik dan sosial yang menggunakan simbol-simbol budaya Tionghoa yang hanya untuk kepentingan ekonomi dan politik jangka pendek atau sesaat.

Jakarta, 29 Mei 2009

Hormat Kami,

Forum Masyarakat Indonesia Peduli Pilpres

(Ikatan Pemuda PSMTI, GEMAKU,JTM, PITI, HIKMAH BUDHI, Komite Tionghoa Indonesia Peduli Pemilu, )

Rabu, 13 Mei 2009

Ziarah ke makam Yap Yun Hap,13 mei 2009





" Saya kuliah di UI di subsidi oleh rakyat,maka itu saya harus berjuang untuk rakyat"
Yap Yun Hap(Pahlawan Demokrasi Tragedi Semanggi II)

Rabu, 06 Mei 2009

Ziarah ke makam Yap Yun Hap


Ziarah ke makam Yap Yun Hap

tanggal : 13 Mei 2009,jam 09.00 wib- selesai.
tempat : TPU Pondok Rango

Kumpul di : Basecamp IP-PSMTI DKI Jakarta
Jl.Tanjung Duren Utara 9.No.651
Jakarta Barat

keterangan lebih lanjut dan comfirm
di server IP-PSMTI DKI Jakarta

no.hp : 085711177577

terima kasih

IP-PSMTI

Selasa, 05 Mei 2009

Sketsa XI Kematian David: Mengapresiasi Saji dan Atensi



May 3rd, 2009

Sketsa XI Kematian David: Mengapresiasi Saji dan Atensi

Menulis Sketsa ke-11 ini saya lakukan tepat di Hari Ulang Tahun Almarhum David Hartanto Widjaja ke-22. Ia lahir di Jakarta, 2 Mei 1987, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Persidangan Coroner Inquiry, dilakukan mulai 20 Mei –Hari Kebangkitan Nasional- hingga 26 Mei 2009 mendatang. Seharusnya NKRI bangkit menggelorakan harkat dan martabat menjadi bangsa kian beradab. Bukan sebaliknya.

TULISAN Sketsa ini sejak awal saya tabalkan gratis ke media online, blog, milis. Komentar, pujian, kritik dan saran, mengalir. Saya lebih banyak berhenti membaca di bagian kritik, yang selalu saya harapkan dari pembaca, agar menulis bisa lebih baik lagi. Senang bila tulisan itu dibantai cincai.

“Enak ya jalan-jalan karena kematian orang.”

Begitu salah satu kritik yang ada di Superkoran, apakabar.ws

Kecut juga hati.

Namun dari situlah saya mendapatkan pembelajaran. Ibarat jamu pahit, kritik itu mengobati, agar jangka panjang bisa meng-kaya-kan hati.

Apresiasi, menurut Kamus Bahasa Indonesia, setidaknya ada tiga makna: kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya; penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu; kenaikan nilai barang karena harga pasarnya naik atau permintaan akan barang itu bertambah.

Berkait ke topik Sketsa ini, saya menyinggung dua saja. Kesadaran terhadap nilai-nilai seni budaya dan penghargaan terhadap sesuatu, yang bermuara kepada melahirkan karakter, berhati dan berbudi. Kedua kata ini jelas berkorelasi tajam mengapa David Hartanto Widjaja, mahasiswa cerdas asal Indonesia itu justeru terindikasi kuat dibunuh di kampusnya di Nanyang Technological University (NTU), Singapura, 2 Maret 2009 lalu.

Ketika berada di Singapura untuk kedua kali memverifikasi kematian David, dua pekan silam, saya menyimak ada dua event seni dan budaya besar di sana; pertama 2nd Singapore International Film Festival 14 sampai 25 April 2009, dan peragaan karya adi busana Christian Lacroix, the Costumier, perancang terkenal Perancis, yang karyanya menjejali beragam wardrobe pementasan teater, film mendunia, berlangsung pada 20 Maret hingga 7 Juni 2009.

Jika dalam konteks jalan-jalan, sebagaimana kritik ditudingkan seseorang kepada saya, jujur saya akui saya memang melakukannya. Toh di balik ketegangan mengungkap kasus kematian David, sebagai pemilik raga yang masih hidup, saya masih berkeinginan memperkaya batin, dan di Singapura: wahana untuk itu kini tidak berbilang.

Saya menonton ontologi film pendek di Sinematek, Museum Nasional Singapura, pada satu kali pementasan, berjudul: Distance (10 menit), Dreaming Kester (14 menit), Hush Baby (3 menit), Leaving Me (9 menit), Madam Chan (20 menit), Shingaporu Monotagari (12 menit), Sink (11 menit) dan Slimming Lesson (13 menit). Dari visual simpel, macam short animasi (2D) Hush Baby, dengan Sutradara Tan Wei Keong, bayi menangis-nangis yang digunting-gunting kertasnya hingga ke visual cerita kelas berat film Sink, yang hitam putih.

Pada Film terakhir di Swimming Lesson, yang disutradarai Kat Goh Phek Siang, terekam kuat kekuatiran dan kenyinyiran seorang ibu yang harus melepas anak gadisnya menuntut ilmu ke negeri orang. Sang ibu kuatir segalanya.

Ibu dag-dig-dug akan anaknya tidak bisa lagi menikmati makanan kesukaannya, sehingga ketika mobil tua yang disetir sang suami menjelang tiba di Bandara dan rantangnya ketinggalan. Si Ibu meraung-raung sejadinya meminta mobil pulang kembali. Makanan kudu mara dibawa.

Film Sink, yang disutradarai Kirsten Tan, secara ekstrim tampil dengan visual hitam putih, panorama laut, statis, berubah, macam animasi static. Sebuah keran kuningan dan tempat cuci tangan perselen putih, lamat-lamat ditenggelamkan laut di pantai. Keran berkarat.

Hari-hari menua.

Pencarian cinta sejati, seakan entah di mana?

Saya yakin Kirsten Tan, sang sutradara Sink, dan crew kecil filmnya, paham betul akan makna cinta sejati. Ketika itulah mata saya berlinang membayangkan wajah Ibunda David, Tjhay Lie Khiun, yang hingga hari ini masih terus bersedih, belum bisa memasak ke dapur.

“Masih trauma melihat pisau. Anak saya tak pernah dari kecil pegang pisau, tak pernah ngupas buah sendiri pakai pisau,” tutur Tjhay.

Jika menyimak karya-karya film pendek anak-anak muda Singapura, hampir pasti kejadian aneh dan unik di NTU, menjadi tak masuk di akal dan di benak saya. Film sebagai sebuah karya budaya, menjadi muara dari sebuah bentuk peradaban.

Sejak memverifikasi kasus kematian David, saya menemukan seorang gadis asal Indonesia, pernah mendapatkan perlakuan kasar dari seorang professor, dengan berteriak-teriak memarahi dirinya di depan kamarnya pada tengah malam buta dan mencoba menerobos masuk ke kamarnya. Parahnya lagi gadis tersebut menetap di single room dan professor tersebut merupakan dosen pengawas hall tempatnya tinggal. Apakah gerangan yang hendak dilakukan sang professor dengan berusaha menerobos kamarnya?

Saya juga mendapatkan data bahwa di kampus NTU pernah ada seorang student leader yang mengintip mahasiswi mandi sebanyak tiga kali dan notabene didukung dengan rekaman CCTV. Sang pelaku dibiarkan lalu lalang belajar di kampus bergengsi itu tanpa ada hukuman. Bahkan mahasiswa yang mengetahui secara detil siapa hidung belang tersebut, dilarang oleh NTU untuk membocorkan namanya ke media.

Kasus-kasus ini semakin menguatkan dugaan saya bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan layak dipertanyakan di ranah ke-NTU-an kini.

“Tetapi semuanya ditutup-tutupi. Beberapa kasus memang terlanjur ditutupi NTU.”

Begitu keterangan gadis “malang” yang kini sudah bekerja di negeri Merlion itu.

Setelah David berpulang 2 Maret 2009 lalu, begitu diberitakan dia menusuk professor, melukai nadi sendiri lalu melompat bunuh diri, pihak kampus yang menyebar berita demikian, “mendukung” mahasiswa meng-endorse berita itu. Seorang mahasiswa Indonesia sejurusan dengan David, terang-terangan bilang ke saya bahwa diintimidasi NTU.

Seorang wanita karir yang dulu hijrah ke Singapura, karena rumah keluarga mereka dijarah di bilangan Mangga Besar, di peristiwa Mei 1998, alumni NTU, menuturkan: Ketika mengambil program master, tugas akhir yang di NTU familiar disebut Final Year Project (FYP), di depan hidungnya dijual ke industri oleh sang professor pembimbing ke industri.

Untuk program beasiswa, NTU memang mewajibkan FYP menjadi milik perguruan itu.

Di satu gedung di salah satu ruang pameran di Museum Nasional Singapura, yang berada di sebelah Taman Fort Canning itu, sebelum menonton ontologi film pendek, di sebuah dinding hitam dengan tanda tangan merah Christian Lacroix mencolok, mencuri pandang. Di atas pukul 18, pameran kampiun perancang adi busana ini gratis gratis publik. Di ruang yang gran dipamerkan karya monumentalnya; baik untuk teater maupun wardrobe film.

Seluruh ruangan hitam. Tata cahaya benar-benar diatur sempurna. Untuk poster berupa stiker dari digital printer dilampu-soroti oleh sinar yang seakan memberi rona kabut. Desain baju-baju rumit dengan manekin tingi jenjang, bagitu dipotret tanpa pencahayaan, ditangkap lensa kamera dengan tajam dan bagus. Tak sembarangan pameran tampaknya. Karya-karya Lacroix memang dominan bagi pentas teater dan film

Terpikirkan juga, apa bisa kemasan pameran seperti itu digelar di Indonesia? Di mana ada ruang pameran yang ber-ceiling- tinggi? Siapa membiayai?

Saya menyimak tak banyak pengunjung datang. Saya tak paham apakah hal begini juga penting bagi mahasiaswa dan dosen NTU untuk dikunjungi?

Yang saya lihat, apalagi di masa-masa examination di NTU di saat saya di Singapura, kekuatiran akan nilai jeblok mahasiswa tinggi. Nilai seakan harus dikejar. Nilai A menjadi segala. Seakan-akan jika tidak dapat A, Anda bukan manusia.

Di tengah langgam elo-elo, gue-gue juga tajam, diperlukan kearifan pergaualan, banyak melihat dan menatap kehidupan sosial, agar terhindar dari kondisi macam kodok dalam batok.

Begitulah keadaan lingkungan bergengsi di lahan 200 hektar yang menjadi tujuan sekolah anak-anak hebat negeri ini.


JUMAT, 1 Mei 2009. Saya menemani keluarga David ke Mabes Polri, tepatnya diterima oleh Kadiv Humas. Dalam hal ini diwakili oleh Wakadiv, Sulistyo. Selain ayah dan paman, tampak juga Chsristovita Wiloto, dari Wiloto PR, yang sejak awal kasus ini telah berupaya mensosialisasikan di facebook, bahwa kematian David layak dipertanyakan. Melalui group di Facebook, yang kini sudah mencapai 16.000 lebih, langkah pro aktif Christ itu, kini juga menggalang dana dalam tiga pekan terkahir sudah mencapai lebih dari Rp 220 juta, bagi keperluan keluarga membayar pengacara di Singapura, yang berjumlah lebih $ 60 ribu.

Pada kesempatan itu Polri menyampaikan perhatiannya untuk kasus ini, dengan mengirimkan Tim yang dipimpin Kompol Hermawan – - siang itu ikut bergabung - - dan 25 April lalu baru saja pulang dari Singapura. Pihak Interpol Mabes Polri pun kini sudah mulai memberi perhatian tinggi, dan ini layak diapresiasi.

Selain Polri, KBRI, peranan media mainstream memberitakan kasus David ini kini juga sudah mulai tajam. Semoga saja tensinya ke depan kian meninggi. Kerja teman-teman wartawan teve ke lapangan layak diacungi jempol, mereka bernyali, misalnya, ketika kami infokan alamat Profesor Chan Kap Luk, saksi kunci. Hampir semua crew televisi kita yang ke Singapura punya keunikan tersendiri mendapatkan visual kediamannya.

Cerita di balik kerja kawan-kawan teve itu menjadi sebuah behind the scene yang tak kalah unik. Sebagai pribadi saya berterima kasih kepada kawan-kawan media itu. Dan berharap pada 20-26 Mei 2009 mendatang meliput langsung persidangan koroner kasus ini. Semua itu menjadi atensi nyata menguak kebenaran kasus ini.

Di balik apresiasi dan atensi yang sudah ada kini, menyimpan dalam kegundahan saya. Yakni perihal saksi, eye witness, yang berpihak kepada dugaan David dibunuh masih lemah.

Di lain sisi tim penyidik di kepolisian Singapura sudah memiliki bukti penggalan sisi waktu di mana David ada di jembatan kaca, lalu melompat ke bawah. Adegan inilah yang terus menerus digiring NTU, bahwa David bunuh diri dan di lengannya memang berdarah-darah, bukti David melukai diri - - sebagai alibi rilis NTU.

Mengapa NTU selalu dan selalu menutupi berbagai kasus menimpa warganya? Pihak kampus enggan bicara.

Saya masih mencari saksi, ada apakah yang terjadi ruang Ptrofesor Chan Kap Luk, juga di tangga darurat?

Mengapa pula lengan kanan bagian luar david berdarah, bersayatan empat kena pisau seakan menangkis, seusai dengan hasil otopsi. Mmengapa pula di lehernya ada lebam, haemorrhaege, bahasa otopsinya?

Sayang saksi kunci lain, Zhou Zeng, poject officer, mati pula empat hari setelah David berpulang. Zhou, diduga ada di lokasi ruang Chan Kap Luk di saat David berdarah-darah. Dan, Zhou yang satu laboratorium dengan David diberitakan gantung diri.

Jasad David yang kadung cepat dikremasi, saksi kunci utama juga mati.

Dua weaknesses yang ada.

Dari semula hanya memverifikasi secara kerja jurnalistik saja, saya pun berusaha membantu menemukan saksi kunci, yang ibarat mencari ketiak ular, untuk secepatnya dapat ditemui. Karenanya saya ingin segera berada di Singapura. Apalagi persidangan koroner kasus ini sudah mendekat.

Di balik waktu masih ada di kala jeda, saya memang akan berjalan-jalan lagi menyimak Lacroix, dan kegiatan kebudayaan lain di Singapura. Panggung Lacroix, salah satunya, memberikan saya pelajaran.

“… Theatre has become much more than recreation, as this art cannot bear mediocrity nor lack of passion”

Pangantar akhir Lacroix di buku pamerannya.

Sebaliknya, bila lenyapnya nyawa David, lantas cuma menjadi sebuah teater kehidupan yang faktanya digiring kuat bunuh diri, maka kenyataan ini yang kudu dilawan kini.

Siapa takut!***


Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com

Malam Renungan di Bundaran HI,4 Mei 2009







Minggu, 03 Mei 2009

JANGAN HANYA DIAM, MARI BANGSAKU DUKUNG PERJUANGAN USUT TUNTAS KASUS DAVID HARTANTO……….!!!!

Teman-Teman, jgn lupa hadiri Malam Renungan di Bundaran HI Senin ini:

Kegiatan Malam Renungan bernuansa spiritual akan dilakukan pada,
Hari/Tanggal : SENIN, 4 Mei 2009
Pukul : 19.45 – 21.00 WIB
Tempat : Bundaran HI, Jalan MH. Thamrin Jakarta Pusat
Dress code : Sopan dan warna GELAP

Turut Berpartisipasi Artis & Publik Figur
- Dr. Seto Mulyadi (kak Seto) Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak
- Kasandra Putranto,dll
(secara sukarela membawakan puisi, lagu & refleksi)

JANGAN HANYA DIAM, MARI BANGSAKU DUKUNG PERJUANGAN USUT TUNTAS KASUS DAVID HARTANTO……….!!!!

Jika Anda tergugah akan perjuangan ini silakan berpartisipasi.

Panitia masih memerlukan beberapa perlengkapan dan dana untuk kesuksesan acara ini, jika anda ingin berpartisipasi silakan hubungi
Mary di +628159090977/ Ine +6281280061911/+6281700083
44
Salam
Arywawirawan Simauw
Kordinator Pelaksana
Solidaritas Nasional Peduli Harkat & Martabat Bangsa
aryawirawan_simauw@yahoo.com

Rabu, 29 April 2009

Sketsa X David: “Greater Minds” di Kampus Kematian

April 28th, 2009

Sketsa X David: “Greater Minds” di Kampus Kematian

Pengadilan First Mention Coroner sudah berjalan. Berita kematian David beradu Pemilu, berlaga beragam infotainment teve. Perlu saksi signifikan di Coroner Inquiry nanti. Agar, ini kasus terhindar dari keputusan: David bunuh diri!

PETANG belum redup. Matahari masih menyengat. Kendati jam menunjukkan menjelang pukul 17, waktu Singapura, Jumat 17 April di Mandai Crematorium, tempat di mana jasad Almarhum David Hartanto Widjaja pada 3 Maret 2009 lalu dikremasi. Dua burung jalak cuek lewat mendekat kaki saya yang mencangkung di tepi jalan aspal lebar segar. Angin meniup dahan kayu hutan di sebelah menyebelah. Suasana mirip kawasan wisata Puncak, Jawa Barat.

Sebuah ambulan minibus datang. Di kedua samping badan mobil berkaca transparan. Di dalamnya sesosok mayat di dalam peti, berpenerang neon biru, bak akuarium. Lagu Mandarin mengalun riang dari CD player bervolume kencang. Hanya ada supir dan seorang pendamping. Tidak terlihat satu pun pengantar. Suasana lalu datar.

Di bangunan sebelah kiri, seorang bapak setengah baya baru saja memarkir mobil di lahan yang lapang. Setangkai bunga ia bawa menuju bangunan macam kondominium. Di situ berderet rak penyimpanan abu; berbaris-baris berkotak-kotak. Di masing-masing pintu rak menempel bunga-bunga segar. Pria tadi tertunduk takzim, bunganya menemani. Tidak lama. Mobilnya lalu melesat lagi persis di depan saya, suasana sepi kembali. Suara lalu sekaan beralih ke gemuruh lalu-lintas di jalan tol di kawasan bawah area itu.

Deretan ruang pembakaran jenazah di bagian kanan di lahan yang lebih 10 hektar itu, bercerobong-cerobong. Di salah satu lubang pembuangan membubung asap hitam. Api baru saja bekerja tampaknya. Suasana lengang Bulu kuduk saya tegak. Panorama menghijau menghampar memagut asri menenangkan hati.

Saya membayangkan, dalam keadaan demikianlah kendaraan yang membawa jasad David Hartanto Widjaja, pada 3 Maret lalu. Kremasi dilakukan di Mandai. Mobil jenazahnya juga datang dengan nyanyian yang riang. Logika memberikan kesenangan di dalam doa menjadi beralasan. Keceriaan mengalirkan aura positif berdatangan. Maka sesuai hitungan Feng Shui tepat pukul 17.15 pada 3 Maret 2009 lalu itu jasad David disembahyangkan secara Budha

Hitungan waktu pukul 17.40, jenazahnya masuk tungku pembakaran. Di jam yang sama di hari berbeda saya masih terpana di Mandai. Satu dua jalak terbang mengusik memori. Benak saya nanar menyesal mengapa jenazah David sebegitu cepat dikremasi, padahal hasil otopsi belum keluar dan kematiannya bermasalah. Sebuah penyesalan dalam juga menyesakkan dada keluarga almarhum.

“Habis kala itu kami berduka, kalut. Menurut kepercayaan Budha, anak yang belum menikah makin cepat dikremasi, makin baik, ditambah semua hal yang disampaikan NTU awalnya kami rasakan benar, ” ujar Hartono Widjaja, ayah David.

Pihak Kedutaan Besar Indonesia Singapura, padahal juga telah mem-book pesawat Garuda untuk membawa jasad David pulang. “Kami meminta Garuda stand by enam jam,” ujar Fahmi, Sekretaris III Bagian Konsular.

“Keluarga telah memilih melakukan kremasi.”

Topik kremasi menjadi begitu krusial. Masalahnya, pada 2 Maret 2009 lalu, mahasiswa di jurusan Elebctrical and Eletronic Engineering (EEE) di Nanyang Technological Universitry (NTU) itu sesuai rilis yang dikeluarkan kampus bergengsi berlahan 200 hektar itu, disosialisasikan bahwa David menusuk Professor Chan Kap Luk, pembimbing tugas akhirnya, lalu melukai nadi lengannya sendiri, kemudian melompat bunuh diri.

Pihak kepolisian Singapura sendiri masih dalam penyidikan. Mereka belum membenarkan rilis NTU. Kemudian rilis berubah dan bertambah dilakukan NTU, bahkan pada 3 April 2009 mereka menambahkan rilis baru yang mengatakan nilai David turun grade-nya dan beasiswanya dicabut menjadi alasan sosok cerdas, jago matematika, menguasai program dasar asembler, C, C++ lalu juga mengopprek aplikasi Open Computer Vission di risetnya itu: bunuh diri.

Kecurigaan mendalam, telah mengantarkan saya dua kali ke Singapura untuk memverifikasi kasus ini. Pertama tujuh hari di sana, kedua delapan hari pekan lalu, memverifikasi bebrbagai bahan tertulis, mencocokkan berbagai hal, lalu empat kali ke lokasi tempat David dinyatakan jatuh, lantas dugaan saya kian menguat bahwa David dibunuh.

Apalagi hasil otopsi yang dikeluarkan Health Science Authority (HAS) yang dilakukan oleh DR. Marian Wang yang di-endorse oleh Profesor Gilbert Lau itu, di antaranya menyebutkan bahwa: ada 36 kelompok luka; 14 kelompok di antaranya akibat benda tajam. Bagian luka benda tajam itu, adalah lengan kanan bagian luar seperti tusukan dalam menangkis pisau, dua sayatan di bagian lengan luar, dua bagian lengan atas luar. Bahkan bagian leher yang di tulisan Sketsa sebelumnya saya tuliskan ada tiga lapis plester, di hasil otopsi diebutkan luka memar dalam.

Maka di Mandai Crematorium petang itu saya tafakur lalu menatap langit, lamat-lamat ada suara tekukur.

David mengapa dikau dibunuh?

Baru ada jawaban suara alam.

Angin petang bertiup kencang..

Sebuah taksi datang dari arah gerbang masuk yang lapang, menguak suasana Mandai nan sepi. Sosok Yasmin, alumni NTU, bekerja di Singapura, banyak sekali membantu verifikasi independen, datang menghampiri saya. Kami lalu meninggalkan lokasi Mandai Crematorium dalam diskusi tiada henti.

RABU 22 April, pukul 11, di lobby Furama City Hotel, di kawasan China Town, Singapura. Sudah ada Hartono Widjaja, Thyai Lie Khiun, Kusuma Widjaja, Wiliam Hartanto Widjaja, ayah, ibu, paman, dan kakak alamarhum David. Juga ada Christovita Wiloto dan isteri yang membantu secara probono kehumasan kegiatan non littigasi. Tak lama kemudian Shashi Nathan, lawyer dari Harry Ellias Partnership tampil. Kordinasi di tempat itu dilakukan, mengingat pukul 11.30 berlangsung First Mantion Coroner Court kasus kematian David.

Dalam sebulan ini saya mengutak-atik, bagaimana menyederhanakan maksud pengadilan koroner. Baru malam menjelang proses pengadilan awal itulah saya menemukan jawaban: bahwa pengadilan koroner, sesungguhnya sebuah proses pengadilan membatasi wewenang negara.

Wewenang negara mana yang dibatasi?

Wewenang melakukan dan membuat Surat Penghentian Pemeriksaan Perkara (SP3). Di Indonesia SP3 bisa dilakukan kepolisian - - jika tak ditemukan banyak bukti misalnya - - dan atau juga dilakukan pihak kejaksaan. Di Singapura, jurus langkah hukum SP3 itu tidak bisa dibuat sewenang-wenang oleh negara. Dia harus melalui proses pengadilan yang disebut Coroner Court. Nah, hari itu First Mention, digelar pertama, di mana hakim memanggil penyidik, lawyer, keluarga (next of kin), sidang terbuka untuk publik.

Di bangunan pengadilan koroner, tidak ada tulisan Coronor Court. Di luar hanya tampak tulisan Subordinate Court. Ternyata di salah satu ruang di bangunan itulah digelar apa yang disebut persidangan koroner. First Mention David digelar di ruang 22 di lantai 3. Saya menghitung, kami menaiki tiga terap anak tangga pencarian keadilan yang mencapai 49.

Ruang 22 itu empat persegi, satu setengah lapangan basket. Suluruh dinding sirap-sirap kayu masih berbilah-bilah vertikal. Di dinding ada satu logo negara Singapura. Di bagian bawah logo, paling depan, meja panjang hakim. Terap agak bawah asisten administrasi persidangan. Sidang dipimpin hakim Pieter Yeo.

Setengah melingkar menghadap hakim, di sebelah kanan, tampak penyidik Soh Ceh Eng. Di luar sebelum masuk, saya sempat menyalaminya, mengenalkan diri sebagai sosok yang pernah meneleponnya, juga meminta konfirmasi soal kekagetannya ketika ditanya Hartanto Wdjaja, soal leher David yang diplester.

Shasi Nathan, lawyer keluarga David menegur saya.

“Don’t do that, Iwan.”

Barulah tahu saya masing-masing pihak jika sudah di pengadilan itu tidak beradab bertegur sapa.

Persidangan terbuka. Hari itu ada sekitar 8 orang wartawan dan blogger lokal. Seorang wartawan RCTI, kebetulan berkesempatan meliput dari Jakarta. Kami duduk di barisan belakang, khusus pengunjung. Cukup lama menunggu ketika Shashi dipanggil hakim. Mereka rapat setengah kamar hampir sejam. Kemudian barulah sidang dimulai. Hakim Pieter Yeo memimpin persidangan. Garis lurus berhadapan hakim tampak pula Shala Iqbal, penuntut umum.

Singkat saja acaranya. Pieter mengatakan bahwa kepastian Coroner Inquiry pada 20 -26 Mei 2009 mendatang, berlangsung marathon lima hari. Mereka juga menyebut, berdasarkan masukan penyidik setidaknya ada 16 saksi, termasuk Profesor Chan Kap Luk. Shashi Nathan, lawyer, di luar persidangan menyebut salah satu lagi saksi sosok isteri digital David di dalam permainan Game Destiny. Sosok gadis Singapura 17 tahun, yang tak pernah jumpa fisik dengan David itu, konon percaya David bunuh diri, hanya karena cuma membaca berita di koran Singapura sehari setelah kematiannya. Daftar 14 saksi lainnya, tidak diberitahu.

Sejak keluar bangunan Subordinate Court itu, Shasi Nathan sangat peduli soal saksi versi keluarga David. “Kita harus mencarinya, agar mendukung fakta-fakta yang akan kita ajukan, ” ujarnya. Maka terbayanglah oleh saya, betapa beratnya melawan proses Coroner Inquiry Mei mendatang itu, di tengah berita, alibi dan saksi yang kompak seakan telah tersaji baik.

Maka kesempatan keluarga bertemu penyidik senior, Avediar DSP, di kantor polisi Jurong West, keesokan harinya, Kamis 23 April 2009 menjadi penting. Sayangnya pada kesempatan itu hanya ayah, ibu, dan kakak David saja yang boleh masuk, plus lawyer dan Yayan GH Mulyana, Sekretaris Pertama Kedubes RI mendampingi. Pamannya, Kusuma Widjaja, harus berada di pinggir jalan yang panas. Ada pula 3 wartawan lokal, yang juga bertanya-tanya mengapa masuk ke lobby ruang tunggu saja pun pengunjung tak boleh.

Selesai pertemuan, saya bertanya kepada Hartono Widjaja, apakah soal kloning hardisk di laptop David dapat diminta segera?

“Polisi bilang baru akan dikasih seminggu sebelum persidangan.”

Baru janji.

“Kami juga menanyakan soal keganjilan yang ada atas kematian anak kami,” ujar Hartono.

Polisi meyakinkan keluarga almarhum David.

“Kami salah satu polisi terbaik di dunia, pasti bekerja dengan professional.”

Begitu kalimat akhir polisi kepada keluarga David.

Untung saja saya seakan terseterap hampir dua jam di tepi jalanan Singapura di siang yang panas. Bila di dalam saya akan bertanya lantang, bagaimana profesional, Bapak polisi jika dalam mengambil barang bukti laptop David, tidak memberikan tanda terima kepada keluarga. Lebih jauh lagi, ketentuan internasional, pengambilan barang digital, harus pula mencantumkan hashing data digital. Laptop David adalah IBM T 60 dengan hard disk 250 Giga - - cukup hihh-end untuk ukuran orang berkutat di IT.

Bagaimana pula soal tempat kejadian perkara, yang cuma dalam hitungan jam, sudah dibersihkan NTU?

Karenanya melalui perkenalan saya tak sengaja dengan Ruby Z. Alamsyah, satu-satunya orang Indonesia yang memilki lisensi digital forensik internasional, mendesak kepolisian Singapura menyerahkan kloning data di laptop David. “Itu merupakan hak keluarga memintanya,” ujar Ruby.

Dari hashing data bisa dilakukan digital forensik independen. Dan Ruby sudah menyanggupi melakukan, bahkan pergi ke Singapura dengan pro bono. Ia pun telah mengontak jaringan di AS jika dipersulit kelak. Sehingga bila urusan digital forensik ini tidak beres bisa digongkan ke tingkat dunia. Digital forensik penting bagi bahan persidangan kelak, selain saksi signifikan yang harus terus dicari.

JUMAT, 24 April 2009, hingga pukul 13 lebih saya masih berada di kampus NTU. Bulak-balik berpenampilan mahasiswa ke sana, memberi rasa berkuliah yang dalam. Pesawat saya kembali pulang ke Jakarta pukul 17.35 hari itu. Saya masih perlu menemui sosok sahabat seangkatan David, yang mulai percaya dan memberikan info signifikan. Dari 600 mahasiswa Indonesia di NTU, sejak kasus ini, memang banyak yang bungkam. Salah seorang mengakui adanya intimidasi kampus; agar mengamini rilis kematian David versi NTU.

Saksi menjadi kunci utama.

Lembaga formal seperti Kedubes kita, terbentur menjaga hubungan kedua negara. Belakangan saya ketahui sudah ada agen polisi AKBP Irwandi, yang diutus kepolisian RI ke Singapura, untuk mempelajari kasus ini. Tentu sebuah kemajuan. Namun pengalaman di lapangan memberikan fakta nyata, jika lembaga formal yang bergerak, banyak sekali birokrasi membatasi, terobosan mencari langung saksi di jalur informal lebih berbuah.

Waktu kian mepet. Jam di tangan saya sudah mendekati pukul 13.30. sama mepetnya persidangan yang menyisakan hari kerja efektif 20 hari lagi. Saya melamun di halte bus di bawah kantin A di NTU. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi, berwajah tegang hari itu, jarang mereka tersenyum. Bebeberapa gadis berwajah oriental manis, cantik, tawar datar. Masa-masa examination.

Sebuah bus bertingkat bernomor 179 menuju stasiun MRT Boonlay datang. Antrian menaikinya ramai. Saya duduk di tengah bawah. Baru saja pantat terhenyak mata tertumbuk. Saya melihat poster di bagian dinding pembatas tangga ke atas.

Sebuah poster berukuran sedang berwarna oranye dengan ilustrasi foto seorang pria klimis berdiri berkemeja berpantolan, seakan mengiklankan pakaian. Tampak tagline di poster itu:

Greater Mind’s,

For our Nation’s defence embark on career in defence science and technology. Join our team greater minds for place for greater mind. www.dsta.gov.sg.

Ada gambar kapal perang, tank, panser dan pesawat tempur di kaki pria yang jadi model itu. DSTA adalah Defence Technology Security Agent, di mana Su Guaning, Presiden NTU adalah Chaiman-nya, dan Profesor Chan Kap Luk yang diberitakan media Singapura ditusuk David, menjadi senior member. DSTA berada langung di bawah Menteri Pertahanan Singapura.

Tiba di stasiun MRT Boonlay, tempat saya mengejar MRT, tampak sebuah bus bertingkat seluruh badannya dicat beriklankan DSTA: Greater Minds!

Saya tak paham, tontonan apa yang menggiring mata. Yang pasti di saat saya kedua kali kembali ke Singapura, di imigrasi, saya telah diinterogasi, untuk apa datang ke Singapura?

Saya kembali ke Singapura, untuk urusan hati nurani dan sebuah kebenaran yang hakiki.

Bukankah yang greater itu sesungguhnya, bermuara kepada mutu peradaban? Secanggih apa pun sebuah negeri berteknologi menggapai langit ketujuh kemampuan mesin perangnya, bila satu nyawa manusia mati di lingkungannya, terindikasi dirusak pula nama baiknya, menjadi apa namanya?.

Saya lalu senyum-senyum saja, dengan greater minds di kampus kematian David. Juga lebih tersenyum lagi membayangkan “greater minds” negeriku berpemilu. Sikap sportif di khasanah kehidupan lintas lini, lintas negara, kini entah mara ke mana? ***

Iwan Piliang, Literary Ciizen Reporter, blog-presstalk.com