Minggu, 22 Februari 2009

7 Etos Kerja Etnis Tionghoa

1. Tak Takut Bermimpi

Tidak perlu gengsi untuk meniti karir dari posisi paling bawah, karena mereka berani bermimpi meraih posisi yang lebih tinggi..

Contohnya, seorang loper Koran bermimpi mempunyai penerbitan nantinya. Dengan bermimpi, disadari atau tidak mereka akan berusaha atau mencari strategi untuk mewujudkannya.

2. Bekerja dan Bekerja

Orang Tionghoa berpendapat apabila ia tidak melakukan hal yang berguna untuk dirinya atau orang lain maka hidupnya akan sia-sia.

Waktu dan kesempatan adalah suatu kemewahan yang pantang disia-siakan.

3. Berpikir untuk 3 Keturunan

Ini adalah falsafah Konghucu, contohnya apabila seseorang mempunyai uang Rp. 50.000,- maka ia hanya menggunakan Rp. 15.000,- untuk keperluan pribadinya. Sisanya akan disimpan untuk keperluan anak dan cucu. Dengan bersikap hemat diyakini bisa mengantisipasi berbagai masalah di kemudian hari.

4. Tak Pernah Menyerah

Orang Tionghoa percaya bahwa setiap rintangan dalam hidup akan membawa dirinya pada keadaan yang lebih baik. Cobaan yang berhasil di lewati akan mendapat ganjaran yang lebih besar.

5. Menguasai Bisnis dari Hulu ke Hilir

Seorang pengusaha Tionghoa akan menghemat biaya produksi dengan menangani seluruh proses produksi. Memang ilmu ini rawan praktek monopoli, tapi bisa diambil positifnya yaitu kita harus bisa mengenal dan menguasai seluruh pekerjaan yang digeluti.

6. Memberi Pelayanan Terbaik

Pepatah Tionghoa berbunyi “Jika tak pandai tersenyum janganlah membuka toko”. Kira-kira maksudnya adalah dalam berkarir atau berbisnis, kemampuan kerja bukanlah yang utama, tetapi kemampuan dalam membawa diri dalam berbagai situasi lah yang akan mengambil peranan penting..

7. Memelihara Relasi

Menurut pepatah Tionghoa “Walau berisik dan buang kotoran dimana-mana, jangan pernah menyembelih angsa bertelur emas”

Artinya kira-kira adalah serepot apapun, hubungan baik dengan relasi adalah sesuatu yang harus dan wajib dijaga. karena mereka bagai angsa bertelur emas.



9 Kunci Sukses Etnis TiongHoa

Pertama, usaha keras, berani mencoba dan tak takut gagal, memulai dengan apa adanya. Agaknya poin inilah yang menjadi kelebihan utama dari para pengusaha Tionghoa. Dalam keluarga Tionghoa, kerja keras bukanlah hal yang aneh. Mereka sudah terbiasa lembur hingga pagi. Jika ada kesempatan, seperti menjelang hari raya Imlek, mereka tahu bahwa permintaan pelanggan akan meningkat, maka mereka akan bekerja keras untuk memenuhi permintaan tersebut karena mereka menyadari bahwa Imlek Cuma satu kali dalam setahun.

Orang Tionghoa pada umumnya berani memulai suatu usaha dan tidak takut gagal. Mereka mempunyai sense of urgency yang tinggi. Mereka sering berpendapat, “Jika tidak memulai sekarang, kapan lagi?” Gagal bukanlah hal yang menakutkan karena mereka selalu memulai usaha dengan apa adanya dan dari bawah.

Kedua, mengumpulkan informasi dan belajar. Sebelum terjun ke suatu bidang usaha, orang Tionghoa akan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Mereka tidak segan pergi ke saudara, teman dan bahkan pihak yang tidak mereka kenal. Setiap pembicaraan dengan siapa saja mereka gunakan untuk bertanya mengenai usaha yang akan ditekuni. Kemanapun mereka pergi, mereka akan membuka mata dan telinga lebar-lebar. Mereka sangat mahir melakukan survey terhadap usaha yang akan mereka geluti.

Mereka juga tidak segan untuk belajar. Cara belajar yang umum adalah bekerja dengan orang yang usahanya serupa. Setelah yakin telah menguasai cukup informasi dan ketrampilan mereka akan berusaha sendiri.

Ketiga, melakukan perencanaan. Perencanaan yang paling umum dilakukan adalah melihat dari sisi untung-ruginya suatu usaha. Dalam bahasa akademis, mereka mempertimbangkan feasibility usaha yang akan mereka jalankan. Berapa banyak ongkos yang akan dikeluarkan, bagaimana cara mendapatkan bahan-baku / material, bagaimana mempersiapkan produk mereka, siapa yang akan beli, akan dijual dimana, kapan kembali modal, dan berapa keuntungannya merupakan faktor utama yang mereka pertimbangkan.

Perencanaan mereka juga sampai memperhatikan efektifitas (tujuan tercapai) dan efisiensi (tepat cara tanpa banyak mengorbankan waktu dan tenaga) usaha yang mereka geluti.

Keempat, membina relasi. Walaupun orang Tionghoa sangat kompetitif, tetapi mereka selalu sadar bahwa membina relasi adalah salah satu kunci keberhasilan mereka.

Untuk membina hubungan baik mereka tidak ragu untuk mengeluarkan pengorbanan tertentu, seperti pemberian hadiah, mengundang makan dan melakukan entertain terhadap relasi mereka. Siapa saja yang bisa membantu melancarkan dan mengembangkan usaha adalah relasi mereka. Dengan pembinaan relasi yang baik, terbuka kerja sama yang saling menguntungkan.

Kelima, kemampuan administrative dan inventory control. Banyak orang lupa hal yang satu ini. Orang Tionghoa sangat sadar akan pentingnya kemampuan dalam beradministrasi dan melakukan pengontrolan inventory.

Mereka sangat memperhatikan secara terperinci setiap kegiatan usaha mereka dan merekamnya dalam catatan. Karena itu mereka tahu betul neraca keuangan mereka dan persediaan inventory mereka. Contoh, jika kita belanja sesuatu di toko orang Tionghoa sangatlah jarang mereka sampai kehabisan persediaan.

Keenam, kemampuan pemasaran. Kemampuan pemasaran orang Tionghoa umumnya ditunjang oleh kemampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan dan kemauan pelanggan serta kemampuan menentukan harga jual dari suatu produk secara tepat. Dari proses ini, maka terjadilah penyebaran iklan gratis dari mulut ke mulut.

Untuk pengusaha yang cukup besar, mereka melakukan positioning secara professional dengan mensponsori kegiatan tertentu dan pemasangan pengiklanan melalui media cetak dan media digital.

Ketujuh, mendelegasikan. Orang Tionghoa sadar betul bahwa untuk mengembangkan suatu usaha agar menjadi besar, mereka harus bisa mendelegasikan pekerjaannya. Syarat utama pendelegasian adalah orang atau karyawan mereka harus bisa dipercaya. Karena itu, mereka cenderung mencari orang yang sudah dikenal lama dan terbukti bisa dipercaya. Bagi mereka keahlian berusaha bisa diajarkan, tetapi kepercayaan tergantung dari masing-masing kepribadian.

Karena system kepercayaan ini jugalah maka, mereka tak segan-segan meminta anak mereka yang masih kecil membantu usaha mereka. Di lain pihak, anak mereka yang sudah terbiasa terekspos dengan usaha orang tuanya, membuat sang anak tumbuh dengan naluri usaha yang mendarah daging.

Kedelapan, mendiversifikasi. Pengusaha Tionghoa tak mudah merasa puas dan cukup atas usaha mereka. Mereka selalu berusaha untuk memperluas usahanya. Salah satu caranya adalah dengan melakukan deversifikasi produk.

Mereka cenderung mempunyai keinginan untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginan pelanggannya. Mereka ingin agar pelanggannya hanya dating ke mereka. Untuk mewujudkan keinginan ini, cara yang paling tepat adalah berani melakukan deversifikasi produk.

Kesembilan, mengolah keuangan. Tidak ada istilah “uang mati” dalam kamus berdagang ala orang Tionghoa. Mereka selalu mempekerjakan uang tersebut supaya bisa berlipat ganda.

Cara yang paling umum dilakukan adalah menanamkan modal kembali ke usaha mereka. Hal ini bisa dilakukan untuk mendirikan usaha baru atau untuk membesarkan usaha yang telah ada.

Senin, 16 Februari 2009

Dewa Rejeki #2. Fan Li, Kaya Melalui Pengolahan Yang Benar

Fan Li yang juga dikenal sebagai Tao Zhu Gong adalah tokoh sejarah yang nyata yang hidup pada zaman dinasti berperang (Warring States). Beliau berasal dari Negara Bagian Chu dan mengabdi untuk Negara Yue (dikarenakan Negara Chu sudah ditaklukkan oleh Negara Wu).

Kerajaan Yue di pimpin oleh Gou Jian yang pada waktu itu dikalahkan oleh Raja Wu yang bernama Fu Chai. Namun Fu Chai tidak membunuh Gou Jian, dan hanya menjadikan dia Budak selama 3tahun. Setelah 3 Tahun berlalu Gou Jian dilepaskan oleh Raja Fu Chai untuk kembali ke Negara Yue, akan tetapi Gou Jian tetap memendam rasa malu yang di tanggung dia selama 3 tahun menjadi budak. Dia pun bertekad untuk membalas penghinaan yang dialami olehnya. Walaupun kembali ke Negara Yue dan tetap berstatus Raja, Gou Jian tetap tidur diatas kayu dan menelan empedu (Wo Xin Chang Dan) selama 10tahun yang dimana untuk mengingatkan dia atas penghinaan yang pernah dialaminya.

Di bawah perencanaan Fan Li, Negara Yue mulai meningkatkan produktivitasnya dan mulai membangun kekayaan dan kekuatan militer.Berkat strategi dari Fan Li, pada akhirnya Raja Gou Jian mengalahkan Raja Fu Chai dan menjadikan Gou Jian sebagai salah satu Raja yang paling di takuti pada Zaman Chun Chiu (Spring & Autumn).

Setelah itu Raja Gou Jian mengangkat Fan Li sebagai pejabat tertinggi, namun Fan Li memilih untuk mengundurkan diri dan melalang buana bersama keluarganya.

Pada saat tiba di pantai timur Negara Qi, Fan Li membuat garam dari air laut dan mengelola lahan pertaniaan. Pengelolaan yang baik akan membawakan kekayaan. Dalam waktu beberapa tahun, Fan Li telah mengumpulkan kekayaan yang besar.
Dikarenakan beberapa sebab, Fan Li kemudian memutuskan untuk meninggalkan negara Qi. Ia memberikan semua uangnya kepada teman dan tetangganya. Pada saat itu Anaknya bertanya pada Fan Li, "Ayah, apakah tidak terlalu disayangkan jika kita memberikan semua harta kita pada orang lain?"

"Simpan uang hanya untuk bertahan hidup dan mengatasi keadaan. Kalau uang menjadi beban, maka berikan kepada orang lain", Jawab Fan Li.

Sewaktu tiba di daerah Tao Yi, Fan Li pun memulai usaha baru untuk menjadi makmur. Pada tahun itu panen gandum melimpah sehingga harga gandum sangat murah. Fan Li pun memborong banyak sekali gandum dan di simpan didalam gudang. Pada tahun berikutnya Panen buruk. Harga gandum pun naik, Fan Li kemudian menjual persediaan gandumnya dengan harga tinggi.

Dengan memahami pasokan dan permintaan pasar (supply & demand) Fan Li kemudian mengumpulkan kekayaannya kembali.

Ada peraturan emas Fan Li untuk keberhasilan usaha, yaitu:

12 tolok ukur emas:
Jadilah seseorang yang
- terampil menilai karakter orang
- mengutamakan pelanggan
- bertekad yang kuat
- menarik dalam mempromosikan dagangan
- cepat tanggap
- jeli dalam pengontrolan kredit
- selektif dan memperkerjakan yang terbaik
- berani dalam memasarkan produk
- pintar dalam mendapatkan produk
- pintar dalam menganalisa peluang pasar
- panutan pengusaha lainnya
- visioner

12 pengajaan emas:
- Jangan Kikir
- Jangan Plin Plan
- Jangan Pamer
- Jangan Curang
- Jangan Menunggak Hutang
- Jangan Diskon sewenang wenang
- Jangan Mengikuti naluri kelompok
- Jangan Melawan Siklus usaha
- Jangan Mempercayai atau mengingat fitnah
- Jangan Terlalu banyak membeli dalam kredit
- Jangan Menabung di bawah takaran
- Jangan Mempromosikan secara membabi buta

itulah rahasia peraturan emas dari Fan Li untuk keberhasilan dalam usaha. Fan Li juga dikenal sebagai salah satu dewa rejeki yang paling bijak. Beliau adalah Pejabat yang setia dan bijak dan Juga seorang pedagang yang termasyur.

Sheng Chai Yu Tao (Menjadi Kaya Ada Aturannya).

DEWA REJEKI

Dalam menyambut perayaan Imlek, kita semua tentu sudah membeli pakaian baru, celana baru, sepatu baru dan semua serba baru. Tidak lupa juga kita memutar lagu imlek dan bermain DHAR..! DHER..! BANG..! (petasan berbunyi). Semua ini kita lakukan untuk menciptakan suasana ceria dan sukacita dalam rangka merayakan imlek.

Dan pada hari pertama imlek (dini hari) sebagian dari kita akan melihat orang tua kita menyiapkan altar dan kemudian mempersembahkan buah dan dupa..

lalu datang seorang anak dengan wajah imut, cerdas dan lucu, menghampiri Mamanya trus bertanya.. "Mama..mama.. kita mau ngapain Ma?"

Dan Mama pun menjawab dengan nada yang penuh kasih, "Kita mau menyambut kedatangan Dewa Rejeki (Chai Sen Ye). Biar dalam tahun ini kita di berkati dengan kesehatan, rejeki dan kebahagiaan yang cukup dan berlimpah".

Itulah awal cerita dimana pertama kali saya mengenal Sang Dewa Rejeki sekitar 18 tahun yang lalu.

Sekarang ini saya baru tahu bahwa menurut mitos orang tionghua ternyata dewa rejeki ada berbagai macam jenis. Ada Fan Li, Bi Gan, Bai Wu Chang, Lu Hai, Guan Yu, dsb.

pada part #1 ini kita akan membahas bagaimana Guan Yu (Guan Xia Di Gong) / Guan Gong di anggap sebagai salah satu dewa Rejeki (bukannya dia lebih cocok jika jadi Dewa Perang???)

Cerita ini berawal ketika Guan Yu memerintah provinsi Jing Zhou. Beliau memerintah provinsi tersebut dengan Adil dan Tegas, dan Rakyat Jing Zhou pun hidup dalam kemakmuran. Sampai akhirnya ketika dia di penggal oleh Sun-Quan, semua rakyat Jing Zhou bersedih dan sebagian besar rakyat di provinsi Jing Zhou mengenang beliau dengan menaruh gambar (potrait) beliau di Rumah mereka.

Cerita ini pun menjadi turun temurun hingga akhirnya dia di Dewa kan oleh masyarakat Tiong Hua.

Sebab itu, di Kepolisian Hong Kong maupun di Gang Mafia Taiwan banyak yang menyembah dewa Guan Kong karena mencerminkan sikap Kesetiaan (loyalitas), Adil dan Tegas.

Dan bagi masyarakat Tiong Hua di sebagian kota di Indonesia (mis: Medan, Batam, dsb) mereka selalu sembayang di keleteng Dewa Guan Gong apabila ingin memulai bisnis baru atau meminta petunjuk bisnis lewat "Tjiam".

Dengan begitu, Dewa GUAN XIA DI GONG pun di kenal sebagai salah satu Dewa Rejeki bukan Dewa Perang.

* Nantikan part Dewa Rejeki #2 "Fan Li, kaya melalui pengolahan bisnis yang benar"


GONG XI FA CHAI

Kamis, 12 Februari 2009

Pernyataan Sikap "Tolak Politisasi Etnis Tionghoa oleh Elite Politik & Pengusaha Tionghoa"

Kebebasan dan kesetaraan adalah dua prasyarat penting dalam membangun

kehidupan politik yang demokratis. Kedua nilai inilah yang berhasil

ditenggelamkan pada titik nadir oleh rezim otoritarian Orde Baru.

Meski belum paripurna, proses demokratisasi pasca reformasi 1998

berhasil membuka sumbat ruang - kebebasan dan mentransformasikan

relasi–relasi timpang hasil rekayasa rezim menjadi lebih demokratis.

Salah satu gambarannya tampak pada kasus Tionghoa. Selama Orde Baru

etnis Tionghoa diposisikan menjadi "musuh bersama" penguasa yang secara

politik dibungkam. Pola yang sama juga kita temukan dalam literatur

sejarah nusantara di era kerajaan – kerajaan.

Itulah mengapa sejarah juga mencatat bahwa etnis Tionghoa ecara

politik dan kebudayaan sering kali terjebak dalam hubungan patronase

yang dibuat oleh rezim orde baru. Kini pasca gerakan reformasi pola

relasi ini perlahan mulai diretas. Dari situ, adalah kewajiban bagi

etnis Tionghoa Indonesia bersama sama dengan warga lainnya untuk

bersikap dan berdiri dalam penghayatan kewarganegaraan dan

demokratisasi baru yang mengedepankan kesetaraan dan keyakinan

demokratisnya selaku warga negara.

Berpijak dari kacamata ini; dengan adanya pernyataan sejumlah elemen

Tionghoa Indonesia beberapa waktu belakangan ini yang secara terbuka

menyatakan dukungan politik kepada pemerintahan yang sedang berkuasa

baik melalui iklan media massa cetak dan elektronik, maka kami

menyatakan sikap sebagai berikut:


Pertama, Belajar dari sejarah dukung mendukung suatu

kekuasaan dengan mengatasnamakan etnis adalah suatu hal yang

kontraproduktif. Cara semacam itu adalah ekspresi minority complex

syndrome warisan jaman Penjajahan dan Rezim Orde baru yang perlu

dikikis.


Kedua, Klarifikasi dan artikulasi etnis dalam suatu mobilisasi politik

yang sarat kepentingan akan menghasilkan dan membuka jurang ketegangan

sosial yang sama sekali tidak perlu bahkan bisa membahayakan karena

dapat menyulut politik berbasis identitas.


Ketiga, Mobilisasi semacam itu secara psikologis akan menempatkan

kembali Tionghoa Indonesia dalam hubungan patronase dengan kekuasaan

dan penguasa, Patronase semacam ini selain berpeluang bagi kembali

terulangnya dominasi juga sangat tidak sesuai dengan cara-cara

berpolitik reformasi.


Keempat, Adanya politisasi etnis & klaim bahwa semua masyarakat

Tionghoa hanya mendukung salah satu partai pemilu 2009 dan

pemerintah yang sedang berkuasa adalah menyesatkan bahkan cenderung

eksploitatif, karena kenyataannya masyarakat Tionghoa

Indonesia sangat majemuk dalam orientasi politik, partai, agama, dan ideologi.


Kelima, Kebebasan berekspresi masyarakat Tionghoa dalam budaya dan

politik tidak terlepas dari peran serta dan jasa para presiden

Republik Indonesia seperti B.J Habibie, Megawati Soekarno Putri,

Abdurrahman Wahid, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sesuai masanya,

dan bukan mutlak jasa salah seorang presiden.


Keenam, Menghimbau para elite Tionghoa untuk lebih beretika dan

bijaksana dalam melakukan kegiatan politik dan sosial yang

menggunakan simbol simbol budaya Tionghoa hanya untuk

kepentingan ekonomi dan politik jangka pendek / sesaat.



Hormat Kami,


Dewan Pimpinan Pusat

Ikatan Pemuda Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (IP-PSMTI)

Senin, 19 Januari 2009

Acara Menyambut Imlek oleh IP-PSMTI Batam

Special Show:

19 January 2009
Pertunjukan seni musik tradisional tionghua dari Harmoni Music Group. Alat musik yang di pertunjukan adalah Gu Zhen (mirip kecapi) atau Xiao (seluring) dan Er Hu (Mirip Cello tapi cuman dua Senar). Untuk menikmati acara musik seperti ini, kita perlu membayar kurang lebih Rp.30jt untuk pementasan. Namun untuk acara IP, anda silahkan menikmatinya dengan gratis.
Adalah lagi pertunjukan lainnya yang akan dibawakan oleh penyanyi kota batam, Hartono / Aseng, dan juga acara lainnnya.

20 January 2009
Pertunjukan seni Kaligrafi dari master kaligrafy, Mr. Liang & Mr. Song.
perlu kita ketahui, Kaligrafi adalah seni tionghua yang hampir langka di Indonesia. Biasanya satu gambar kaligrafi China bisa dijual dgn harga jutaan rupiah, namun karena ini hanya pertunjukan seni.. Anda dapat belajar gratis langsung dgn masternya. Siapa tau Anda Master Kaligrafi berikutnya... ^^

21 January 2009
Talk Show fengshui dengan Mr. Benard Pan Wang Qi (Pakar Feng Shui) dgn moderator Mr.Sun (pengamat budaya tionghua).
Bagi Anda yang ingin meningkatkan peruntungan bisnis dan kemajuan karir, Anda dapat mempelajari trick2 fengshui yang akan di paparkan oleh Mr.Pan

22 January 2009
Talk Show / Diskusi / Pembahasan mengenai makna imlek antara generasi muda dengan generasi tua. Hhehehe.. Bagi Anda yang belum memahami makna imlek, silahkan datang untuk menghadiri acara ini. Agar ketika di tanya oleh teman2 kita yang non-tionghua, "Apa sich makna imlek itu?"
Anda tidak akan hanya menjawab, "Imlek itu, yaaa.. terima ang pao lah.." karena jawaban itu artinya kita merayakan sesuatu yang tidak kita pahami..

23 January 2009
Akan ada pertunjukan Barong Sai, dan yang jelas adalah.. Chai Shen Ye (dewa keberuntungan) akan bagi2 angpao buat kita.. Agar tahun kerbau ini kita makin hokki, sehat, usaha lancar, dan cita cita tercapai.. bisa juga makin ganteng dan cantik.. (hehehe.. kalo gw doanya tetap ganteng kek sekarang aja)..

*Dewa keberuntungan ini asli kita datangkan dari kelenteng Dewa Rejeki di Limindo Trade Center batam center..

Partisipasi kita adalah wujud dari kepedulian kita akan budaya kita. Karena setiap suku memiliki budaya, maka jangan sampai generasi muda Tionghua tidak mengenal budaya mereka sendiri.

Saya tunggu kehadiran kawan kawan semua pada acara yang spektakular Menyambut Imlek bersama IP - PSMTI.

Best Wishes,
Jun (Bidang Kemasyarakatan IP-PSMTI Kota Batam)

Sabtu, 17 Januari 2009

Zhuge Liang


Kita belajar sedikit tentang sejarah kuno yaa. Ini adalah sumber yang saya dapat dari site Erabaru. Di Buku Three Kingdoms (Sam Kok) saya hanya tau riwayat Zhuge Liang sejak dia bergabung dengan Liu Bei. Mengenai masa kecilnya saya tidak ada sumber yang jelas. Nah.. siapa sebenarnya Zhuge Liang??? silahkan di nikmati artikelnya dan jangan lupa pada nilai yang tertera dalam cerita ini.

Zhuge Liang adalah ahli strategi militer dari negara Han pada zaman Tiga Negara (220-280 A.D.). Dia adalah ahli strategi yang paling cerdik dan terkenal dalam sejarah Tiongkok. Dia acapkali dilukiskan sedang memakai sebuah jubah dan memegang kipas yang terbuat dari bulu burung bangau.
Ketika Zhuge Liang berumur 9 tahun, dia masih tidak dapat berbicara. Keluarganya sangat miskin. Ayahnya menyuruh dia menggembalakan domba di dekat sebuah bukit di sebuah gunung. Di atas gunung ada sebuah kuil Pendeta Tao dimana tinggal seorang Pendeta Tao tua dengan kepala penuh dengan uban. Setiap hari Pendeta Tao tersebut berjalan-jalan santai di luar kuil. Ketika ia berjumpa Zhuge Liang, dia mencoba berkomunikasi dengan anak laki-laki tersebut dengan menggunakan isyarat tangan. Zhuge Liang juga senang “berkomunikasi” dengan Pendeta Tao tersebut dengan isyarat tangan. Pendeta Tao itu menjadi sangat menyayangi Zhuge Liang yang pintar dan menawan itu. Dia mulai mengobati masalah kebisuan anak laki-laki itu. Tidak lama kemudian Zhuge Liang bisa berbicara!
Zhuge Liang sangat gembira ketika akhirnya dia bisa bicara. Dia pergi mendaki menuju ke kuil Pendeta Tao tersebut untuk mengucapkan terima kasih. Pendeta Tao tersebut memberitahukannya, “Ketika kau pulang ke rumah, katakan pada orang tuamu bahwa saya mengangkatmu sebagai murid dan saya akan mengajari kamu membaca. Saya juga akan mengajarimu seni astronomi, geografi dan menerapkan teori Ying dan Yang di dalam strategi militer. Jika orang tuamu setuju, kamu harus hadir di sekolah setiap hari dan kamu tidak boleh membolos!”
Sejak saat itu, Zhuge Liang menjadi murid Pendeta Tao tua tersebut. Hujan atau terang, Zhuge Liang akan mendaki gunung untuk menerima pelajarannya. Dia adalah seorang anak yang sangat pintar dan rajin yang sangat serius dalam pelajarannya. Dia juga mempunyai daya ingat yang sangat tajam. Pendeta Tao tersebut tidak pernah harus mengajari segala sesuatunya sampai dua kali. Dengan sendirinya Pendeta Tao tersebut menjadi semakin menyayanginya.
Delapan tahun berlalu dengan cepatnya dan Zhuge Liang menjadi seorang remaja.
Suatu hari ketika Zhuge Liang seperti biasanya turun gunung, dia melewati sebuah biara yang telah ditinggalkan, terletak di tengah-tengah gunung. Tiba-tiba datang hembusan angin yang sangat kuat, diikuti dengan badai petir. Zhuge Liang tiada pilihan lain selain berlari masuk ke biara yang telah ditinggalkan itu untuk menghindari badai. Di sana ada seorang wanita muda yang belum pernah dijumpai keluar untuk bertemu dengannya. Dia memiliki sepasang mata yang besar dan alis yang tipis. Dia begitu cantiknya sampai-sampai Zhuge Liang hampir salah mengiranya adalah seorang dewi. Dia segera tertarik dengan wanita muda tersebut.
Ketika badai berhenti, wanita cantik itu menemui dia di depan pintu dan berkata padanya dengan tersenyum, ”Karena sekarang kita sudah saling berjumpa. Kamu bebas untuk mampir dan menikmati secangkir teh kapanpun kau ingin beristirahat dalam perjalananmu turun atau naik ke gunung.” Begitu Zhuge Liang berjalan keluar dari biara itu, dia merasa curiga. “Mengapa saya tidak mengetahui ada orang yang tinggal di biara ini sebelumnya?” pikirnya.
Sejak hari itu, Zhuge Liang mulai sering mengunjungi biara tersebut. Setiap kali wanita cantik itu selalu menghiburnya dengan ramah tamah. Dia memasak makanan yang enak untuknya dan selalu membujuknya untuk tinggal lebih lama. Setelah makan malam mereka selalu berbincang-bincang dengan seru dan bermain catur. Dibandingkan dengan kuil Pendeta Tao, biara tersebut bagaikan surga.
Selalu memikirkan wanita itu mengalihkan perhatiannya dari pendidikannya dan dia mulai kehilangan semangat untuk belajar. Dia semakin lama semakin kurang perhatiannya terhadap ajaran dari Pendeta Tao. Dia juga menjadi pelupa dan mengalami kesulitan dalam mempelajari buku pelajaran baru.
Pendeta Tao tua itu menemukan masalahnya. Suatu hari dia memanggil Zhuge Liang dan menarik napas panjang. “Lebih mudah menghancurkan sebuah pohon daripada menanam sebuah pohon!” ujarnya. “Saya telah menyia-nyiakan banyak tahun untuk kamu!”
Zhuge Liang menundukan kepalanya karena malu dan berkata, “Guru, saya tidak akan mengecewakan anda lagi atau menyia-nyiakan ajaran anda!”
“Saya tidak mempercaimu,” kata Pendeta Tao tua. “Saya tahu kamu adalah seorang anak yang sangat cerdas, karena itu saya ingin mengobati penyakitmu dan memberimu sebuah pendidikan yang layak. Delapan tahun terakhir ini kamu telah sangat dalam pendidikanmu, jadi saya berpikir bahwa kerja keras untuk mendidikmu adalah pantas. Tetapi sekarang kamu melalaikan pendidikanmu. Bagaimanapun pandainya kamu, kamu tidak dapat kemana-mana jika kamu terus-menerus seperti ini! Sekarang kamu berjanji padaku untuk tidak akan pernah lagi mengecewakan aku. Bagaimana saya dapat mempercayai kata-katamu?”
Pendeta Tao tua melanjutkan, “Semua ada penyebabnya.” Kemudian dia menunjuk ke sebatang pohon yang terbungkus oleh banyak tumbuhan merambat yang tebal di halaman. “Lihat pohon itu,” katanya. “Mengapa kamu pikir pohon itu setengah hidup dan sedang berjuang dalam setiap pertumbuhannya?”
“Tanaman merambat yang melilit pohon menghalangi pertumbuhannya!” jawab Zhuge Liang.
“Tepat sekali! Pohon ini mengalami kesulitan untuk tumbuh di gunung cadas dengan tanah yang sedikit ini. Tetapi dia tetap tumbuh karena dia teguh untuk mengembangkan akar dan cabangnya. Dia tidak takut udara panas maupun dingin. Tetapi, ketika tanaman merambat membungkusnya, dia tidak dapat tumbuh lebih tinggi lagi. Lucukan bagaimana tanaman merambat yang lembut itu bisa mengalahkan pohon yang tinggi dan tegap itu!”
Zhuge Liang sangat pintar, jadi dia segera memahami apa yang dimaksud oleh Gurunya. Dia bertanya, “Guru, anda mengetahui kunjungan saya ke biara itu”
Pendeta Tao tua berkata, “Hidup di dekat air, seseorang akan mempelajari sifat alami ikan. Hidup di gunung, seseorang akan mempelajari bahasa burung. Saya telah mengamati kamu dan tingkah lakumu. Bagaimana mungkin hubungan asmaramu luput dari perhatianku?”
Dia berhenti sebentar sebelum memberitahukan muridnya dengan tatapan yang serius, “Biar kuberitahu kamu kebenaran mengenai wanita cantik itu. Dia bukan manusia. Dia adalah burung bangau dewa di surga. Dia telah diusir keluar dari istana langit sebagai hukuman karena telah mencuri dan memakan buah persik Ratu Langit. Dia datang ke dunia manusia dan menjelma menjadi seorang wanita cantik. Dia adalah bangau dewa yang telah rusak moralnya yang tahunya hanya mencari kesenangan. Kamu telah terpedaya oleh penampilannya, kamu telah menyia-nyiakan tidak hanya waktumu saja. Jika kamu membiarkan dirimu kehilangan kemauanmu, kamu akan kehilangan segalanya! Selain itu, jika kamu tidak menuruti kehendaknya, akhirnya dia akan menyakitimu.
Sampai waktu itu Zhuge Liang baru menyadari keseriusan dari petualangannya. Dengan cemas dia meminta gurunya cara mengatasinya.
Pendeta Tao tua berkata, “Bangau dewa tersebut mempunyai kebiasaan pada tengah malam menjelma kembali ke bentuk semulanya dan terbang ke sungai langit untuk mandi. Ketika dia menjauhi biara, kamu harus masuk ke kamarnya dan bakar jubahnya. Dia mencuri jubah tersebut dari Istana Langit. Tanpa jubah, dia tidak akan dapat menjelma menjadi seorang wanita cantik.
Zhuge Liang berjanji untuk mengikuti instruksi Gurunya. Sebelum ia pergi, Gurunya memberikan sebuah tongkat dengan ukiran kepala naga di ujung atasnya. Dia memberitahu Zhuge Liang, “Ketika bangau dewa tersebut mengetahui kebakaran di dalam biara, dia akan segera terbang kembali dari sungai langit. Dia akan menyadari bahwa kamu telah membakar jubahnya dan akan menyerang kamu. Ketika itu terjadi, kau harus memukulnya dengan tongkat ini! Sangatlah penting untuk kau ingat dan mengerjakan apa yang telah aku beritahukan kepadamu!”
Tengah malam, diam-diam Zhuge Liang pergi ke biara tersebut. Dia membuka kamar wanita itu dan menemukan jubahnya di atas ranjang. Dia segera membakar jubah tersebut.
Ketika bangau dewa sedang mandi di sungai langit, tiba-tiba dia merasa jantungnya sakit. Dia melihat ke arah biara dan melihat api. Dia segera terbang ke bawah dan melihat Zhuge Liang telah membakar jubahnya. Dia menghampiri Zhuge Liang dan berusaha menyerang matanya dengan paruh. Zhuge Liang mempunyai reflek yang cepat. Dia mengangkat tongkatnya dan memukul jatuh bangau dewa. Kemudian dia menangkap ekor bangau itu. Bangau dewa itu memberontak dan berhasil meloloskan diri, tetapi dia kehilangan bulu ekornya pada Zhuge Liang.
Dia menjadi seekor bangau dengan ekor botak. Dia menjadi malu dengan penampilannya, sehingga dia berhenti mandi di sungai langit. Dia juga tidak berani memasuki Istana Langit untuk mencuri jubah lagi, jadi dia tidak punya pilihan lain selain tetap tinggal di dunia manusia selamanya dan hidup diantara bangau biasa.
Untuk mengingatkan dirinya sendiri akan pelajaran ini, Zhuge Liang menyimpan bulu ekor bangau itu.
Sejak hari itu, Zhuge Liang menjadi semakin rajin. Dia akan menghafal semua yang diajarkan oleh Gurunya dan semua buku pelajaran. Dia benar-benar menyerap apa yang telah dipelajarinya dan dapat menerapkannya dengan mudah. Setahun telah lewat. Tepat pada hari ia membakar jubah bangau dewa setahun yang lalu, pendeta Tao tua memberitahukannya dengan sebuah senyuman lebar, “Muridku, kau telah belajar dibawah pengawasanku selama sembilan tahun. Saya telah mengajarimu semua yang harus kau pelajari dan kamu telah mempelajari semua buku pelajaran di sini. Ada sebuah pepatah, “Guru membawamu ke pintu masuk, dan terserah padamu untuk berlatih kultivasi.’ Sekarang kamu berusia 18 tahun. Sudah saatnya kamu meninggalkan rumah dan mengembangkan karirmu!”
Ketika Zhuge Liang mendengar bahwa ia telah menyelesaikan pendidikannya, dia memohon gurunya untuk mengajarinya lagi. “Guru! Semakin banyak saya belajar, saya merasa semakin rendah hati. Saya merasa masih banyak yang harus saya pelajari dari anda!”
“Pendidikan sejati berasal dari kehidupan nyata. Kau harus belajar menerapkan pengetahuanmu didalam kehidupan dan merancang pemecahan yang berbeda untuk situasi yang berbeda! Sebagi contoh, kau telah belajar sebuah pelajaran yang penting dari kunjunganmu dengan bangau dewa bahwa seseorang tidak seharusnya tergoda oleh nafsu atau perasaan. Ini adalah pelajaran berguna yang diperoleh dari pengalaman nyata. Dengan hal itu didalam pikiran, kamu tidak akan dibuat binggung oleh permukaan maya dari dunia ini. Berhati-hatilah dalam setiap tindakanmu. Kamu harus melihat segalanya dalam bentuk sejatinya. Ini adalah nasihat perpisahan saya kepadamu! Saya akan meninggalkanmu hari ini.”
“Guru, kemana Anda akan pergi?” dengan heran Zhuge Liang bertanya. “Dimana saya dapat menemuimu atau mengunjungimu di kemudian hari?”
“Saya akan keliling dunia dan tidak akan menetap lagi.”
Tiba-tiba Zhuge Liang merasakan air mata yang hangat menetes dari matanya. Dia berkata, “Guru! Sebelum anda pergi, anda harus memberikan aku kesempatan untuk bersujud kepada anda dan berterima kasih kepada anda atas pendidikan yang anda berikan padaku!”
Kemudia Zhuge Liang bersujud kepada Gurunya. Ketika dia berdiri, Pendeta Tao tersebut telah menghilang.
Pendeta Tao itu meninggalkannya sebuah jubah dengan gambar patkwa. Zhuge Liang sering memikirkan Gurunya; karena itu, ia sering memakai jubah dengan gambar patkwa sebab memberikannya perasaan bahwa Gurunya berada di sampingnya.
Zhuge Liang tidak pernah lupa nasihat Gurunya, terutama nasihat perpisahannya. Dia membuat kipas dari bulu ekor bangau dewa untuk mengingatkan dirinya sendiri untuk sangat berhati-hati seumur hidupnya. Ini adalah cerita dibalik kipas bulu terkenal yang dibawa oleh Zhuge Liang.


*ada sumber yang mengatakan bahwa ayah ZhugeLiang meninggal pada saat dia usia 8tahun. Tapi menurut cerita ini, pada umur 9tahun.. ayahnya masi hidup.



Selasa, 13 Januari 2009

Indopos, Selasa 13 Januari 2009

SELAMATKAN RUMAH OEY DJIE SAN

Pemuda Tionghoa Gelar Diskusi

DIPICU mulai terbengkalainya bangunan cagar budaya, puluhan anak muda di sekitar rumah Kapitan Oey Djie San di Karawaci, Tangerang berkumpul untuk melakukan diskusi serta mencari solusi agar bangunan tersebut bisa diselamatkan, Sabtu (10/1) malam lalu. Keberadaan rumah Kapitan Oey Djie San kini 40 persen bangunannya sudah dirusak karena kepemilikannya sudah diambil alih orang lain. Elemen masyarakat, khususnya dari kalangan pemuda-pemudi Tionghoa konsern memperjuangkan kelanggengan bangunan itu. Ken Ken, koordinator pemuda Tionghoa yang peduli bangunan cagar budaya mengungkapkan dirinya merasa ironis melihat bangunan bersejarah itu akan segera dibongkar. “Padahal, bangunan kapitan itu memiliki keunikan arsitektur yang sulit ditemukan di tempat lain. Yaitu keberadaan arsitektur yang menggabungkan arsitektur Eropa (Belanda), local (Melayu Tangerang), dan China . Tidak banyak gedung tua yang memiliki keunikan seperti rumah Kapitan Oey Djie San,” tuturnya kepada Indo Pos.

Maka itu, bersama dengan Ikatan Pemuda PSMTI, Koalisi Antar Generasi dan Anak Langit, serta elemen pemuda lainnya, pihaknya mengharapkan Pemda setempat bisa mengambil alih bangunan itu sebagai bagian dari cagar budaya. Sehingga, lanjutnya, keberadaan bangunan itu bisa terus bertahan sebagai bagian dari wisata budaya Tangerang.

Untuk diketahui, rumah Kapitan Oey Djie San berdiri sejak abad ke 18. Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 1,8 hektar itu dulunya merupakan pusat administrasi bagi orang Tionghoa. Juga pernah dipakai sebagai tempat pengungsian masyarakat Tionghoa Tangerang ketika terjadi pembantaian di Tangerang 1946 (peristiwa gedoran).

Sementara itu, bagi Eddie Sadeli selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Tionghoa Indonesia (LPPMTI) mengaku sangat ironis melihat keberadaan bangunan tua di Indonesia.“Ketika keluarga tidak lagi bisa mengurus bangunan itu, Pemda tidak tanggap mengambil alih. Padahal, situ situ sangat berharga bagi pendidikan sejarah generasi selanjutnya,” imbuhnya. Selain sebagai bagian dari pendidikan sejarah bangsa, bangunan itu juga pantas menjadi aset wisata untuk Pemda setempat. Kendala dana seringkali menjadi keluhan Pemda ketika dituntut untuk melestarikan cagar budaya. “Sepertinya, elemen komunitas Tionghoa pun harus turun tangan. Misalnya, mereka bisa membeli bangunan itu kemudian dipakai sebagai tempat perkumpulan atau rumah abu Marga. Saya rasa, itu solusi yang paling mungkin saat ini,” sarannya. (sic)