Senin, 16 Februari 2009

DEWA REJEKI

Dalam menyambut perayaan Imlek, kita semua tentu sudah membeli pakaian baru, celana baru, sepatu baru dan semua serba baru. Tidak lupa juga kita memutar lagu imlek dan bermain DHAR..! DHER..! BANG..! (petasan berbunyi). Semua ini kita lakukan untuk menciptakan suasana ceria dan sukacita dalam rangka merayakan imlek.

Dan pada hari pertama imlek (dini hari) sebagian dari kita akan melihat orang tua kita menyiapkan altar dan kemudian mempersembahkan buah dan dupa..

lalu datang seorang anak dengan wajah imut, cerdas dan lucu, menghampiri Mamanya trus bertanya.. "Mama..mama.. kita mau ngapain Ma?"

Dan Mama pun menjawab dengan nada yang penuh kasih, "Kita mau menyambut kedatangan Dewa Rejeki (Chai Sen Ye). Biar dalam tahun ini kita di berkati dengan kesehatan, rejeki dan kebahagiaan yang cukup dan berlimpah".

Itulah awal cerita dimana pertama kali saya mengenal Sang Dewa Rejeki sekitar 18 tahun yang lalu.

Sekarang ini saya baru tahu bahwa menurut mitos orang tionghua ternyata dewa rejeki ada berbagai macam jenis. Ada Fan Li, Bi Gan, Bai Wu Chang, Lu Hai, Guan Yu, dsb.

pada part #1 ini kita akan membahas bagaimana Guan Yu (Guan Xia Di Gong) / Guan Gong di anggap sebagai salah satu dewa Rejeki (bukannya dia lebih cocok jika jadi Dewa Perang???)

Cerita ini berawal ketika Guan Yu memerintah provinsi Jing Zhou. Beliau memerintah provinsi tersebut dengan Adil dan Tegas, dan Rakyat Jing Zhou pun hidup dalam kemakmuran. Sampai akhirnya ketika dia di penggal oleh Sun-Quan, semua rakyat Jing Zhou bersedih dan sebagian besar rakyat di provinsi Jing Zhou mengenang beliau dengan menaruh gambar (potrait) beliau di Rumah mereka.

Cerita ini pun menjadi turun temurun hingga akhirnya dia di Dewa kan oleh masyarakat Tiong Hua.

Sebab itu, di Kepolisian Hong Kong maupun di Gang Mafia Taiwan banyak yang menyembah dewa Guan Kong karena mencerminkan sikap Kesetiaan (loyalitas), Adil dan Tegas.

Dan bagi masyarakat Tiong Hua di sebagian kota di Indonesia (mis: Medan, Batam, dsb) mereka selalu sembayang di keleteng Dewa Guan Gong apabila ingin memulai bisnis baru atau meminta petunjuk bisnis lewat "Tjiam".

Dengan begitu, Dewa GUAN XIA DI GONG pun di kenal sebagai salah satu Dewa Rejeki bukan Dewa Perang.

* Nantikan part Dewa Rejeki #2 "Fan Li, kaya melalui pengolahan bisnis yang benar"


GONG XI FA CHAI

Kamis, 12 Februari 2009

Pernyataan Sikap "Tolak Politisasi Etnis Tionghoa oleh Elite Politik & Pengusaha Tionghoa"

Kebebasan dan kesetaraan adalah dua prasyarat penting dalam membangun

kehidupan politik yang demokratis. Kedua nilai inilah yang berhasil

ditenggelamkan pada titik nadir oleh rezim otoritarian Orde Baru.

Meski belum paripurna, proses demokratisasi pasca reformasi 1998

berhasil membuka sumbat ruang - kebebasan dan mentransformasikan

relasi–relasi timpang hasil rekayasa rezim menjadi lebih demokratis.

Salah satu gambarannya tampak pada kasus Tionghoa. Selama Orde Baru

etnis Tionghoa diposisikan menjadi "musuh bersama" penguasa yang secara

politik dibungkam. Pola yang sama juga kita temukan dalam literatur

sejarah nusantara di era kerajaan – kerajaan.

Itulah mengapa sejarah juga mencatat bahwa etnis Tionghoa ecara

politik dan kebudayaan sering kali terjebak dalam hubungan patronase

yang dibuat oleh rezim orde baru. Kini pasca gerakan reformasi pola

relasi ini perlahan mulai diretas. Dari situ, adalah kewajiban bagi

etnis Tionghoa Indonesia bersama sama dengan warga lainnya untuk

bersikap dan berdiri dalam penghayatan kewarganegaraan dan

demokratisasi baru yang mengedepankan kesetaraan dan keyakinan

demokratisnya selaku warga negara.

Berpijak dari kacamata ini; dengan adanya pernyataan sejumlah elemen

Tionghoa Indonesia beberapa waktu belakangan ini yang secara terbuka

menyatakan dukungan politik kepada pemerintahan yang sedang berkuasa

baik melalui iklan media massa cetak dan elektronik, maka kami

menyatakan sikap sebagai berikut:


Pertama, Belajar dari sejarah dukung mendukung suatu

kekuasaan dengan mengatasnamakan etnis adalah suatu hal yang

kontraproduktif. Cara semacam itu adalah ekspresi minority complex

syndrome warisan jaman Penjajahan dan Rezim Orde baru yang perlu

dikikis.


Kedua, Klarifikasi dan artikulasi etnis dalam suatu mobilisasi politik

yang sarat kepentingan akan menghasilkan dan membuka jurang ketegangan

sosial yang sama sekali tidak perlu bahkan bisa membahayakan karena

dapat menyulut politik berbasis identitas.


Ketiga, Mobilisasi semacam itu secara psikologis akan menempatkan

kembali Tionghoa Indonesia dalam hubungan patronase dengan kekuasaan

dan penguasa, Patronase semacam ini selain berpeluang bagi kembali

terulangnya dominasi juga sangat tidak sesuai dengan cara-cara

berpolitik reformasi.


Keempat, Adanya politisasi etnis & klaim bahwa semua masyarakat

Tionghoa hanya mendukung salah satu partai pemilu 2009 dan

pemerintah yang sedang berkuasa adalah menyesatkan bahkan cenderung

eksploitatif, karena kenyataannya masyarakat Tionghoa

Indonesia sangat majemuk dalam orientasi politik, partai, agama, dan ideologi.


Kelima, Kebebasan berekspresi masyarakat Tionghoa dalam budaya dan

politik tidak terlepas dari peran serta dan jasa para presiden

Republik Indonesia seperti B.J Habibie, Megawati Soekarno Putri,

Abdurrahman Wahid, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sesuai masanya,

dan bukan mutlak jasa salah seorang presiden.


Keenam, Menghimbau para elite Tionghoa untuk lebih beretika dan

bijaksana dalam melakukan kegiatan politik dan sosial yang

menggunakan simbol simbol budaya Tionghoa hanya untuk

kepentingan ekonomi dan politik jangka pendek / sesaat.



Hormat Kami,


Dewan Pimpinan Pusat

Ikatan Pemuda Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (IP-PSMTI)

Senin, 19 Januari 2009

Acara Menyambut Imlek oleh IP-PSMTI Batam

Special Show:

19 January 2009
Pertunjukan seni musik tradisional tionghua dari Harmoni Music Group. Alat musik yang di pertunjukan adalah Gu Zhen (mirip kecapi) atau Xiao (seluring) dan Er Hu (Mirip Cello tapi cuman dua Senar). Untuk menikmati acara musik seperti ini, kita perlu membayar kurang lebih Rp.30jt untuk pementasan. Namun untuk acara IP, anda silahkan menikmatinya dengan gratis.
Adalah lagi pertunjukan lainnya yang akan dibawakan oleh penyanyi kota batam, Hartono / Aseng, dan juga acara lainnnya.

20 January 2009
Pertunjukan seni Kaligrafi dari master kaligrafy, Mr. Liang & Mr. Song.
perlu kita ketahui, Kaligrafi adalah seni tionghua yang hampir langka di Indonesia. Biasanya satu gambar kaligrafi China bisa dijual dgn harga jutaan rupiah, namun karena ini hanya pertunjukan seni.. Anda dapat belajar gratis langsung dgn masternya. Siapa tau Anda Master Kaligrafi berikutnya... ^^

21 January 2009
Talk Show fengshui dengan Mr. Benard Pan Wang Qi (Pakar Feng Shui) dgn moderator Mr.Sun (pengamat budaya tionghua).
Bagi Anda yang ingin meningkatkan peruntungan bisnis dan kemajuan karir, Anda dapat mempelajari trick2 fengshui yang akan di paparkan oleh Mr.Pan

22 January 2009
Talk Show / Diskusi / Pembahasan mengenai makna imlek antara generasi muda dengan generasi tua. Hhehehe.. Bagi Anda yang belum memahami makna imlek, silahkan datang untuk menghadiri acara ini. Agar ketika di tanya oleh teman2 kita yang non-tionghua, "Apa sich makna imlek itu?"
Anda tidak akan hanya menjawab, "Imlek itu, yaaa.. terima ang pao lah.." karena jawaban itu artinya kita merayakan sesuatu yang tidak kita pahami..

23 January 2009
Akan ada pertunjukan Barong Sai, dan yang jelas adalah.. Chai Shen Ye (dewa keberuntungan) akan bagi2 angpao buat kita.. Agar tahun kerbau ini kita makin hokki, sehat, usaha lancar, dan cita cita tercapai.. bisa juga makin ganteng dan cantik.. (hehehe.. kalo gw doanya tetap ganteng kek sekarang aja)..

*Dewa keberuntungan ini asli kita datangkan dari kelenteng Dewa Rejeki di Limindo Trade Center batam center..

Partisipasi kita adalah wujud dari kepedulian kita akan budaya kita. Karena setiap suku memiliki budaya, maka jangan sampai generasi muda Tionghua tidak mengenal budaya mereka sendiri.

Saya tunggu kehadiran kawan kawan semua pada acara yang spektakular Menyambut Imlek bersama IP - PSMTI.

Best Wishes,
Jun (Bidang Kemasyarakatan IP-PSMTI Kota Batam)

Sabtu, 17 Januari 2009

Zhuge Liang


Kita belajar sedikit tentang sejarah kuno yaa. Ini adalah sumber yang saya dapat dari site Erabaru. Di Buku Three Kingdoms (Sam Kok) saya hanya tau riwayat Zhuge Liang sejak dia bergabung dengan Liu Bei. Mengenai masa kecilnya saya tidak ada sumber yang jelas. Nah.. siapa sebenarnya Zhuge Liang??? silahkan di nikmati artikelnya dan jangan lupa pada nilai yang tertera dalam cerita ini.

Zhuge Liang adalah ahli strategi militer dari negara Han pada zaman Tiga Negara (220-280 A.D.). Dia adalah ahli strategi yang paling cerdik dan terkenal dalam sejarah Tiongkok. Dia acapkali dilukiskan sedang memakai sebuah jubah dan memegang kipas yang terbuat dari bulu burung bangau.
Ketika Zhuge Liang berumur 9 tahun, dia masih tidak dapat berbicara. Keluarganya sangat miskin. Ayahnya menyuruh dia menggembalakan domba di dekat sebuah bukit di sebuah gunung. Di atas gunung ada sebuah kuil Pendeta Tao dimana tinggal seorang Pendeta Tao tua dengan kepala penuh dengan uban. Setiap hari Pendeta Tao tersebut berjalan-jalan santai di luar kuil. Ketika ia berjumpa Zhuge Liang, dia mencoba berkomunikasi dengan anak laki-laki tersebut dengan menggunakan isyarat tangan. Zhuge Liang juga senang “berkomunikasi” dengan Pendeta Tao tersebut dengan isyarat tangan. Pendeta Tao itu menjadi sangat menyayangi Zhuge Liang yang pintar dan menawan itu. Dia mulai mengobati masalah kebisuan anak laki-laki itu. Tidak lama kemudian Zhuge Liang bisa berbicara!
Zhuge Liang sangat gembira ketika akhirnya dia bisa bicara. Dia pergi mendaki menuju ke kuil Pendeta Tao tersebut untuk mengucapkan terima kasih. Pendeta Tao tersebut memberitahukannya, “Ketika kau pulang ke rumah, katakan pada orang tuamu bahwa saya mengangkatmu sebagai murid dan saya akan mengajari kamu membaca. Saya juga akan mengajarimu seni astronomi, geografi dan menerapkan teori Ying dan Yang di dalam strategi militer. Jika orang tuamu setuju, kamu harus hadir di sekolah setiap hari dan kamu tidak boleh membolos!”
Sejak saat itu, Zhuge Liang menjadi murid Pendeta Tao tua tersebut. Hujan atau terang, Zhuge Liang akan mendaki gunung untuk menerima pelajarannya. Dia adalah seorang anak yang sangat pintar dan rajin yang sangat serius dalam pelajarannya. Dia juga mempunyai daya ingat yang sangat tajam. Pendeta Tao tersebut tidak pernah harus mengajari segala sesuatunya sampai dua kali. Dengan sendirinya Pendeta Tao tersebut menjadi semakin menyayanginya.
Delapan tahun berlalu dengan cepatnya dan Zhuge Liang menjadi seorang remaja.
Suatu hari ketika Zhuge Liang seperti biasanya turun gunung, dia melewati sebuah biara yang telah ditinggalkan, terletak di tengah-tengah gunung. Tiba-tiba datang hembusan angin yang sangat kuat, diikuti dengan badai petir. Zhuge Liang tiada pilihan lain selain berlari masuk ke biara yang telah ditinggalkan itu untuk menghindari badai. Di sana ada seorang wanita muda yang belum pernah dijumpai keluar untuk bertemu dengannya. Dia memiliki sepasang mata yang besar dan alis yang tipis. Dia begitu cantiknya sampai-sampai Zhuge Liang hampir salah mengiranya adalah seorang dewi. Dia segera tertarik dengan wanita muda tersebut.
Ketika badai berhenti, wanita cantik itu menemui dia di depan pintu dan berkata padanya dengan tersenyum, ”Karena sekarang kita sudah saling berjumpa. Kamu bebas untuk mampir dan menikmati secangkir teh kapanpun kau ingin beristirahat dalam perjalananmu turun atau naik ke gunung.” Begitu Zhuge Liang berjalan keluar dari biara itu, dia merasa curiga. “Mengapa saya tidak mengetahui ada orang yang tinggal di biara ini sebelumnya?” pikirnya.
Sejak hari itu, Zhuge Liang mulai sering mengunjungi biara tersebut. Setiap kali wanita cantik itu selalu menghiburnya dengan ramah tamah. Dia memasak makanan yang enak untuknya dan selalu membujuknya untuk tinggal lebih lama. Setelah makan malam mereka selalu berbincang-bincang dengan seru dan bermain catur. Dibandingkan dengan kuil Pendeta Tao, biara tersebut bagaikan surga.
Selalu memikirkan wanita itu mengalihkan perhatiannya dari pendidikannya dan dia mulai kehilangan semangat untuk belajar. Dia semakin lama semakin kurang perhatiannya terhadap ajaran dari Pendeta Tao. Dia juga menjadi pelupa dan mengalami kesulitan dalam mempelajari buku pelajaran baru.
Pendeta Tao tua itu menemukan masalahnya. Suatu hari dia memanggil Zhuge Liang dan menarik napas panjang. “Lebih mudah menghancurkan sebuah pohon daripada menanam sebuah pohon!” ujarnya. “Saya telah menyia-nyiakan banyak tahun untuk kamu!”
Zhuge Liang menundukan kepalanya karena malu dan berkata, “Guru, saya tidak akan mengecewakan anda lagi atau menyia-nyiakan ajaran anda!”
“Saya tidak mempercaimu,” kata Pendeta Tao tua. “Saya tahu kamu adalah seorang anak yang sangat cerdas, karena itu saya ingin mengobati penyakitmu dan memberimu sebuah pendidikan yang layak. Delapan tahun terakhir ini kamu telah sangat dalam pendidikanmu, jadi saya berpikir bahwa kerja keras untuk mendidikmu adalah pantas. Tetapi sekarang kamu melalaikan pendidikanmu. Bagaimanapun pandainya kamu, kamu tidak dapat kemana-mana jika kamu terus-menerus seperti ini! Sekarang kamu berjanji padaku untuk tidak akan pernah lagi mengecewakan aku. Bagaimana saya dapat mempercayai kata-katamu?”
Pendeta Tao tua melanjutkan, “Semua ada penyebabnya.” Kemudian dia menunjuk ke sebatang pohon yang terbungkus oleh banyak tumbuhan merambat yang tebal di halaman. “Lihat pohon itu,” katanya. “Mengapa kamu pikir pohon itu setengah hidup dan sedang berjuang dalam setiap pertumbuhannya?”
“Tanaman merambat yang melilit pohon menghalangi pertumbuhannya!” jawab Zhuge Liang.
“Tepat sekali! Pohon ini mengalami kesulitan untuk tumbuh di gunung cadas dengan tanah yang sedikit ini. Tetapi dia tetap tumbuh karena dia teguh untuk mengembangkan akar dan cabangnya. Dia tidak takut udara panas maupun dingin. Tetapi, ketika tanaman merambat membungkusnya, dia tidak dapat tumbuh lebih tinggi lagi. Lucukan bagaimana tanaman merambat yang lembut itu bisa mengalahkan pohon yang tinggi dan tegap itu!”
Zhuge Liang sangat pintar, jadi dia segera memahami apa yang dimaksud oleh Gurunya. Dia bertanya, “Guru, anda mengetahui kunjungan saya ke biara itu”
Pendeta Tao tua berkata, “Hidup di dekat air, seseorang akan mempelajari sifat alami ikan. Hidup di gunung, seseorang akan mempelajari bahasa burung. Saya telah mengamati kamu dan tingkah lakumu. Bagaimana mungkin hubungan asmaramu luput dari perhatianku?”
Dia berhenti sebentar sebelum memberitahukan muridnya dengan tatapan yang serius, “Biar kuberitahu kamu kebenaran mengenai wanita cantik itu. Dia bukan manusia. Dia adalah burung bangau dewa di surga. Dia telah diusir keluar dari istana langit sebagai hukuman karena telah mencuri dan memakan buah persik Ratu Langit. Dia datang ke dunia manusia dan menjelma menjadi seorang wanita cantik. Dia adalah bangau dewa yang telah rusak moralnya yang tahunya hanya mencari kesenangan. Kamu telah terpedaya oleh penampilannya, kamu telah menyia-nyiakan tidak hanya waktumu saja. Jika kamu membiarkan dirimu kehilangan kemauanmu, kamu akan kehilangan segalanya! Selain itu, jika kamu tidak menuruti kehendaknya, akhirnya dia akan menyakitimu.
Sampai waktu itu Zhuge Liang baru menyadari keseriusan dari petualangannya. Dengan cemas dia meminta gurunya cara mengatasinya.
Pendeta Tao tua berkata, “Bangau dewa tersebut mempunyai kebiasaan pada tengah malam menjelma kembali ke bentuk semulanya dan terbang ke sungai langit untuk mandi. Ketika dia menjauhi biara, kamu harus masuk ke kamarnya dan bakar jubahnya. Dia mencuri jubah tersebut dari Istana Langit. Tanpa jubah, dia tidak akan dapat menjelma menjadi seorang wanita cantik.
Zhuge Liang berjanji untuk mengikuti instruksi Gurunya. Sebelum ia pergi, Gurunya memberikan sebuah tongkat dengan ukiran kepala naga di ujung atasnya. Dia memberitahu Zhuge Liang, “Ketika bangau dewa tersebut mengetahui kebakaran di dalam biara, dia akan segera terbang kembali dari sungai langit. Dia akan menyadari bahwa kamu telah membakar jubahnya dan akan menyerang kamu. Ketika itu terjadi, kau harus memukulnya dengan tongkat ini! Sangatlah penting untuk kau ingat dan mengerjakan apa yang telah aku beritahukan kepadamu!”
Tengah malam, diam-diam Zhuge Liang pergi ke biara tersebut. Dia membuka kamar wanita itu dan menemukan jubahnya di atas ranjang. Dia segera membakar jubah tersebut.
Ketika bangau dewa sedang mandi di sungai langit, tiba-tiba dia merasa jantungnya sakit. Dia melihat ke arah biara dan melihat api. Dia segera terbang ke bawah dan melihat Zhuge Liang telah membakar jubahnya. Dia menghampiri Zhuge Liang dan berusaha menyerang matanya dengan paruh. Zhuge Liang mempunyai reflek yang cepat. Dia mengangkat tongkatnya dan memukul jatuh bangau dewa. Kemudian dia menangkap ekor bangau itu. Bangau dewa itu memberontak dan berhasil meloloskan diri, tetapi dia kehilangan bulu ekornya pada Zhuge Liang.
Dia menjadi seekor bangau dengan ekor botak. Dia menjadi malu dengan penampilannya, sehingga dia berhenti mandi di sungai langit. Dia juga tidak berani memasuki Istana Langit untuk mencuri jubah lagi, jadi dia tidak punya pilihan lain selain tetap tinggal di dunia manusia selamanya dan hidup diantara bangau biasa.
Untuk mengingatkan dirinya sendiri akan pelajaran ini, Zhuge Liang menyimpan bulu ekor bangau itu.
Sejak hari itu, Zhuge Liang menjadi semakin rajin. Dia akan menghafal semua yang diajarkan oleh Gurunya dan semua buku pelajaran. Dia benar-benar menyerap apa yang telah dipelajarinya dan dapat menerapkannya dengan mudah. Setahun telah lewat. Tepat pada hari ia membakar jubah bangau dewa setahun yang lalu, pendeta Tao tua memberitahukannya dengan sebuah senyuman lebar, “Muridku, kau telah belajar dibawah pengawasanku selama sembilan tahun. Saya telah mengajarimu semua yang harus kau pelajari dan kamu telah mempelajari semua buku pelajaran di sini. Ada sebuah pepatah, “Guru membawamu ke pintu masuk, dan terserah padamu untuk berlatih kultivasi.’ Sekarang kamu berusia 18 tahun. Sudah saatnya kamu meninggalkan rumah dan mengembangkan karirmu!”
Ketika Zhuge Liang mendengar bahwa ia telah menyelesaikan pendidikannya, dia memohon gurunya untuk mengajarinya lagi. “Guru! Semakin banyak saya belajar, saya merasa semakin rendah hati. Saya merasa masih banyak yang harus saya pelajari dari anda!”
“Pendidikan sejati berasal dari kehidupan nyata. Kau harus belajar menerapkan pengetahuanmu didalam kehidupan dan merancang pemecahan yang berbeda untuk situasi yang berbeda! Sebagi contoh, kau telah belajar sebuah pelajaran yang penting dari kunjunganmu dengan bangau dewa bahwa seseorang tidak seharusnya tergoda oleh nafsu atau perasaan. Ini adalah pelajaran berguna yang diperoleh dari pengalaman nyata. Dengan hal itu didalam pikiran, kamu tidak akan dibuat binggung oleh permukaan maya dari dunia ini. Berhati-hatilah dalam setiap tindakanmu. Kamu harus melihat segalanya dalam bentuk sejatinya. Ini adalah nasihat perpisahan saya kepadamu! Saya akan meninggalkanmu hari ini.”
“Guru, kemana Anda akan pergi?” dengan heran Zhuge Liang bertanya. “Dimana saya dapat menemuimu atau mengunjungimu di kemudian hari?”
“Saya akan keliling dunia dan tidak akan menetap lagi.”
Tiba-tiba Zhuge Liang merasakan air mata yang hangat menetes dari matanya. Dia berkata, “Guru! Sebelum anda pergi, anda harus memberikan aku kesempatan untuk bersujud kepada anda dan berterima kasih kepada anda atas pendidikan yang anda berikan padaku!”
Kemudia Zhuge Liang bersujud kepada Gurunya. Ketika dia berdiri, Pendeta Tao tersebut telah menghilang.
Pendeta Tao itu meninggalkannya sebuah jubah dengan gambar patkwa. Zhuge Liang sering memikirkan Gurunya; karena itu, ia sering memakai jubah dengan gambar patkwa sebab memberikannya perasaan bahwa Gurunya berada di sampingnya.
Zhuge Liang tidak pernah lupa nasihat Gurunya, terutama nasihat perpisahannya. Dia membuat kipas dari bulu ekor bangau dewa untuk mengingatkan dirinya sendiri untuk sangat berhati-hati seumur hidupnya. Ini adalah cerita dibalik kipas bulu terkenal yang dibawa oleh Zhuge Liang.


*ada sumber yang mengatakan bahwa ayah ZhugeLiang meninggal pada saat dia usia 8tahun. Tapi menurut cerita ini, pada umur 9tahun.. ayahnya masi hidup.



Selasa, 13 Januari 2009

Indopos, Selasa 13 Januari 2009

SELAMATKAN RUMAH OEY DJIE SAN

Pemuda Tionghoa Gelar Diskusi

DIPICU mulai terbengkalainya bangunan cagar budaya, puluhan anak muda di sekitar rumah Kapitan Oey Djie San di Karawaci, Tangerang berkumpul untuk melakukan diskusi serta mencari solusi agar bangunan tersebut bisa diselamatkan, Sabtu (10/1) malam lalu. Keberadaan rumah Kapitan Oey Djie San kini 40 persen bangunannya sudah dirusak karena kepemilikannya sudah diambil alih orang lain. Elemen masyarakat, khususnya dari kalangan pemuda-pemudi Tionghoa konsern memperjuangkan kelanggengan bangunan itu. Ken Ken, koordinator pemuda Tionghoa yang peduli bangunan cagar budaya mengungkapkan dirinya merasa ironis melihat bangunan bersejarah itu akan segera dibongkar. “Padahal, bangunan kapitan itu memiliki keunikan arsitektur yang sulit ditemukan di tempat lain. Yaitu keberadaan arsitektur yang menggabungkan arsitektur Eropa (Belanda), local (Melayu Tangerang), dan China . Tidak banyak gedung tua yang memiliki keunikan seperti rumah Kapitan Oey Djie San,” tuturnya kepada Indo Pos.

Maka itu, bersama dengan Ikatan Pemuda PSMTI, Koalisi Antar Generasi dan Anak Langit, serta elemen pemuda lainnya, pihaknya mengharapkan Pemda setempat bisa mengambil alih bangunan itu sebagai bagian dari cagar budaya. Sehingga, lanjutnya, keberadaan bangunan itu bisa terus bertahan sebagai bagian dari wisata budaya Tangerang.

Untuk diketahui, rumah Kapitan Oey Djie San berdiri sejak abad ke 18. Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 1,8 hektar itu dulunya merupakan pusat administrasi bagi orang Tionghoa. Juga pernah dipakai sebagai tempat pengungsian masyarakat Tionghoa Tangerang ketika terjadi pembantaian di Tangerang 1946 (peristiwa gedoran).

Sementara itu, bagi Eddie Sadeli selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Tionghoa Indonesia (LPPMTI) mengaku sangat ironis melihat keberadaan bangunan tua di Indonesia.“Ketika keluarga tidak lagi bisa mengurus bangunan itu, Pemda tidak tanggap mengambil alih. Padahal, situ situ sangat berharga bagi pendidikan sejarah generasi selanjutnya,” imbuhnya. Selain sebagai bagian dari pendidikan sejarah bangsa, bangunan itu juga pantas menjadi aset wisata untuk Pemda setempat. Kendala dana seringkali menjadi keluhan Pemda ketika dituntut untuk melestarikan cagar budaya. “Sepertinya, elemen komunitas Tionghoa pun harus turun tangan. Misalnya, mereka bisa membeli bangunan itu kemudian dipakai sebagai tempat perkumpulan atau rumah abu Marga. Saya rasa, itu solusi yang paling mungkin saat ini,” sarannya. (sic)


Sabtu, 10 Januari 2009


Pernyatan Sikap Ikatan Pemuda Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (IP-PSMTI)
1. Pada dasarnya bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan tidak melupakan sejarahnya.
2. Komplek rumah Kapitan Tionghoa Oey Djie San (menjabat 1907-1916) merupakan salah satu saksi sejarah perkembangan Tangerang dan Batavia.
3. Komplek rumah Kapitan Oey Djie San juga merupakan salah satu buah dari perjalanan panjang arsitektur Indonesia yang multikultur dan multietnis.
4. Agar terhindar dari amnesia sejarah maka pelestarian situs-situs budaya adalah kewajiban seluruh generasi muda penerus bangsa.
5. IP-PSMTI mengajak segenap elemen masyarakat Indonesia, Kota Tangerang pada khususnya, untuk melakukan segala upaya untuk melestarikan rumah Kapitan Oey Djie San sebagai harta warisan budaya nasional Indonesia.



Jakarta,10 Januari 2009


Andrew A. Susanto
Ketua Umum DPP Ikatan Pemuda PSMTI

Jumat, 09 Januari 2009

Save Our Heritage!




Oleh :
David Kwa


Dalam sejarah Indonesia wilayah Tangerang doeloe dikenal merupakan wilayah tanah-tanah partikulir. Letaknya yang tidak jauh dari Batavia membuat banyak orang kaya―utamanya orang Tionghoa―tertarik untuk memiliki tanah di wilayah ini. Para pejabat Tionghoa yang diangkat Belanda (Chineesche Officieren) Batavia pun umumnya punya tanah di wilayah ini, dan juga di wilayah Bekasi. Tanah-tanah itu biasanya dijadikan lahan pertanian dan perkebunan: padi, kelapa, singkong dan karet. Dengan banyaknya tanah partikulir yang ada, seharusnya banyak pula country house yang doeloe dibangun para tuan tanah. Namun, kini hampir tak ada lagi country house yang tersisa dari penghancuran dan penjarahan setelah Kemerdekaan, selain Rumah Kongsi Kapitan Oey Djie San ini.
Di antara country house yang tersisa itu, country house milik keturunan Kapitein der Chineezen (kapitan Cina) Oey Djie San Sia 黃如山舍 (baca: Ui Ji San Sia) yang dikenal sebagai Rumah Kongsi alias Rumah Tuan Tanah―ini terbilang unik. Bukan hanya kemegahannya, melainkan juga karena gaya arsitekturnya agak langka kita temui. Sejauh ini, apabila umumnya orang membangun country house dalam satu gaya arsitektur saja, umumnya Belanda, maka country house yang satu ini dalam dua gaya yang seolah saling bertolak-belakang. Bangunan yang satu yang menghadap ke Jalan Teuku Umar bergaya Indisch, artinya arsitektur Belanda khas Hindia, sedang bangunan yang satu lagi, yang menghadap ke Sungai Cisadane, Tionghoa.

Siapakah Oey Djie San?
Kapitein der Chineezen (Kapitan Cina) Oey Djie San Sia 黃如山舍 (masa jabatan 1907-1916) berasal dari keluarga pejabat Tionghoa turun-temurun semenjak kakek-buyutnya. Sebuah papan pujian (pian 匾) berangka tahun 1805 yang masih tersimpan di Kelenteng Boen Tek Bio 文德廟, Pasar Lama, Tangerang, dipersembahkan kepada Koan Im Hoet Tjouw 觀音佛祖 oleh kakek-buyutnya, Oey Tjoen Wie 黃春蔚. Ia sendiri adalah direktur Cultuur Maatschappij (Tanah Partikulir) Karawatji-Tjilongok. Ketika masih sedikit orang Tionghoa yang berpendidikan Belanda, dia sudah terkenal karena pendidikan Belandanya dan kemampuan berbahasa Belandanya yang sangat baik.
Oey Djie San langsung diangkat untuk mengisi lowongan jabatan kapitan Cina tanpa terlebih dahulu menjabat letnan pada 1 November 1907, menggantikan Oey Giok Koen (masa jabatan 1899-1907) yang pensiun pada bulan itu juga. Saat berdirinya Tiong Hoa Hwee Koan cabang Tangerang pada 30 Juli 1904, ia menjabat sebagai presidennya, dengan wakil ketua: Kam Kheng In dan Souw Sian Thee.

Rangka kayu kuda-kuda paseban yang berukir indah.

Bangunan country house semacam ini hanya satu-satunya yang ditemukan di wilayah Tangerang, bahkan mungkin di seluruh Indonesia. Di seluruh Jakarta, bangunan yang mempunyai dua gaya arsitektur Tionghoa-Indisch yang tersisa tinggal satu-satunya―namun bukan country house―adalah gedung Keluarga Souw yang keturunan Luitenant der Chineezen Souw Tian Pie 蘇天庇 (masa jabatan 1848-1860) serta kedua putranya Luitenant der Chineezen Titulair Souw Siauw Tjong 蘇紹宗 (masa jabatan 1877-1898) dan Luitenant der Chineezen Souw Siauw Keng 蘇紹經 (masa jabatan 1897-1913) di Jalan Patekoan (Perniagaan). Rumah yang berasitektur Tionghoa menghadap ke Patekoan, sedang yang Indisch menghadap ke sisi sebaliknya. Sedangkan gedung yang dahulunya berlanggam arsitektur Tionghoa-Indisch lainnya di Jalan Gajah Mada kini telah musnah, sejak gedung lamanya dihancurkan dan di atasnya dibangun gedung baru SMAN II.
Bangunan lain yang juga megah namun secara kosmologi telah rusak akibat ulah vandalisme tangan-tangan tak bertanggung jawab ialah bekas kediaman Majoor der Chineezen Khouw Kim An 許金安 (1879-1945) di Jalan Gajah Mada. Gedung yang dikenal sebagai Candra Naya ini kini berada dalam kondisi rusak berat setelah “diamputasi” anggota tubuhnya dan ditinggalkan bagian torsonya dalam keadaan merana.
Arsitektur bangunan ini adalah arsitektur rumah tinggal, bukan ruko, bergaya arsitektur Fujian selatan (Minnan 閩南). Bangunan rumah tinggal yang terdiri dari bangunan utama yang di tengah, diapit oleh dua buah bangunan sayang kiri-kanan, serta bangunan belakang yang lebih tinggi, dengan sebuah paseban atau pendopo di depannya, sangat unik. Di mata orang awam, gaya bubungan atapnya mirip kelenteng, yakni mirip busur dengan kedua ujung kiri dan kanannya mencuat ke atas dan masing-masing terbelah dua. Gaya bubungan atap (tiongcit) seperti ini disebut Ekor Walet (Yanbue 燕尾), sebab bentuknya mirip burung yang liurnya sangat bernilai sangat tinggi tersebut. Ditambah dengan sepasang Singa Batu (cioqsai 石獅) di kiri dan kanannya, makin kuatlah asosiasi orang dengan bangunan kelenteng. Padahal sebenarnya kedua unsur bangunan ini merupakan privilege yang tidak dimiliki setiap orang.

Pada masa lalu, di Tiongkok, hingga akhir dinasti Qing (1644-1911), berlaku ketentuan ujung bubungan atap bergaya Ekor Walet dan sepasang Singa Batu hanya boleh diterapkan pada bangunan pemerintahan, bangunan keagamaan, serta kediaman para pejabat pemerintah (Mandarin). Rakyat biasa tidak diperbolehkan. Mereka hanya boleh memakai bubungan atap bergaya Pelana (Bepue 馬背), serta tidak boleh memasang sepasang Singa Batu. Akibatnya, jumlah bangunan yang bergaya bubungan atap Ekor Walet dan mempunyai sepasang Singa Batu di depannya―selain kelenteng―sangat sedikit. Sekian banyak bangunan berlanggam arsitektur Tionghoa yang masih tersisa di kota-kota di Jawa, umumnya bergaya Pelana.

Di Jakarta, di sepanjang Angke, Jembatan Lima, Patekoan, Ji Lak Keng, Kongsi Besar, Tongkangan, Petak Baru, Pasar Pagi, Pasar Gelap, Toko Tiga-Toko Tiga Sebrang, Blandongan, Pintu Kecil, Gang Burung, Jembatan Batu, dan Pinangsia; juga di Jatinegara, masih tersisa bangunan-bangunan bergaya Pelana. Yang di kawasan Tanah Abang dan Senen sudah musnah semasa orde babe berkuasa. Sedang yang bergaya Ekor Walet bisa dihitung dengan jari: gedung bekas kediaman Majoor Khouw Kim An (1879-1945) di Gajah Mada (Candra Naya) yang sudah rusak, gedung yang masih dihuni keturunan Luitenant Souw Thian Pie (masa jabatan 1848-1860) dan kedua putranya Luitenant Titulair Souw Siauw Tjong (masa jabatan 1877-1898) dan Luitenant Souw Siauw Keng (masa jabatan 1897-1913) di Patekoan (Perniagaan), gedung yang kini dijadikan bangunan Gereja Santa Maria de Fatima di Toasebio (Kemurnian III) dan tentunya Rumah Kongsi Oey Djie San ini. Selain itu juga, gedung sekolah negeri di Pejagalan (bubungan atapnya terlihat jelas dari jalan layang arah Jembatan Lima-Pintu Besar Utara), gedung seputar (depan?) Pertokoan Chandra di Pancoran, yang hanya bisa terlihat jelas dari lapangan parkir di belakangnya, dan Toko Lautan Mas di Toko Tiga. Dua yang disebut terakhir ini rupanya oleh pemiliknya sengaja “dipatahkan” ujung Ekor Waletnya yang terbelah dua, supaya terkesan mirip Pelana, yang sebenarnya lebih rendah status sosialnya.
Oleh sebab sangat sedikitnya bangunan bergaya Ekor Walet, selain kelenteng-kelenteng, di Jakarta, masyarakat lebih mengenal bangunan bergaya Ekor Walet sebagai bangunan kelenteng, sehingga ada beberapa pihak yang merasa “alergi” kalau rumahnya dibilang “mirip kelenteng”. Akibatnya terjadilah: ujung bubungan atap Ekor Walet sengaja “dipatahkan”, agar tampak mirip dengan Pelana!!!
Di seluruh Kabupaten Tangerang sendiri, sepengetahuan saya, hanya bangunan Rumah Kongsi inilah satu-satunya yang memiliki privilege itu, sebab pemiliknya turun-temurun adalah pejabat Tionghoa (Chineesche Officieren). Kapitan Oey Djie San Sia sendiri adalah putra seorang pejabat Tionghoa, sebab hanya putra pejabat Tionghoa yang berhak menyandang gelar Sia 舍 di belakang namanya. Mungkin Ibu Mona Lohanda bisa menjelaskan siapa nama ayahnya. Dari gayanya, bangunan ini agaknya dibangun pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, maka kemungkinan besar kakek-buyutnya, Oey Tjoen Wie 黃春蔚, lah yang membangunnya.

Bangunan bergaya Indisch yang menghadap ke Jalan Teuku Umar

Bangunan ini sangat menarik dilihat dari kacamata kelengkapan bangunan dalam gaya arsitektur tradisional Fujian selatan, tempat asal leluhur sebagian besar etnik Tionghoa di Jawa. Ia terdiri dari bangunan utama (tuachu 大厝) yang di tengah, setelah paseban. Bangunan utama terdiri dua cungkup, yang dipisahkan oleh sebuah halaman dalam (chimcne 深井), sebagaimana layaknya sebuah bangunan tradisional, dengan cungkup bangunan kedua atau belakang (aochu 後厝) dibuat lebih tinggi dari cungkup pertama, karena berloteng. Bangunan utama ini diapit oleh dua bangunan sayap (hoochu 護厝) di kiri-kanannya, dipisahkan dari bangunan utama oleh halaman dalam di kedua sampingnya. Bila bangunan utama bergaya bergaya bubungan atap Ekor Walet, maka kedua bangunan samping bergaya Pelana. Ini menunjukkan pembedaan status antara keduanya.
Uniknya lagi, selain bangunan bergaya arsitektur Tionghoa, country house ini juga memiliki bangunan bergaya arsitektur Indisch. Lazimnya hanya country house milik tuan tanah Belanda yang berarsitektur Indisch, yakni gaya arsitektur Belanda yang dipengaruhi arsitektur lokal, dengan atap joglo Jawa yang anggun, pilar tuscan Yunani yang kokoh, dan jendela krepyak berukuran besar-besar. Penyangga atapnya adalah besi tempa berukuran raksasa. Bangunan ini pun tak kalah mengagumkan dari bangunan bergaya Tionghoa yang sudah kita bahas.
Meskipun sekilas tampak sangat Tionghoa dan Belanda, bila kita cermati betul-betul, Rumah Kongsi ini sebenarnya adalah bangunan Tionghoa dan Belanda yang sudah mengadopsi banyak unsur lokal. Keduanya merupakan hasil adaptasi bangunan Tionghoa dan Belanda dengan iklim tropis, yang jelas jauh berbeda dengan iklim sub tropis dan dingin di negara asalnya. Keduanya merupakan buah dari perjalanan panjang sejarah arsitektur Indonesia. Keduanya unik dan langka.
Sungguh ironis, tatkala negara-negara jiran Singapura dan Malaysia bergiat dalam upaya melestarikan bangunan-bangunan pusaka nenek-moyang mereka, kita malah menghancurkannya satu per satu!
Di tengah minimnya bangunan tua yang ada di Kota dan Kabupaten Tangerang, sudah selayaknya Rumah Kongsi ini kita selamatkan. Sudah selayaknya bangunan ini dilindungi, dan menjadi ikon kota Tangerang, sebab memang tak ada duanya. Takkan mungkin kita temukan bangunan seperti itu di bagian dunia lainnya, di Tiongkok dan Belanda sekalipun. Bahkan seandainya kita berkesempatan mendirikan bangunan Tionghoa dan Belanda baru di Taman Mini... Rasanya sulit... Otherwise, suatu saat nanti kita tinggal meratapi kehilangan yang kita alami akibat kebodohan kita sendiri. Kita tinggal berkata kepada anak-cucu kita: “Sayang sekali ya, dahulu kita terburu nafsu menghancurkan bangunan itu, hanya karena dorongan materi semata. Padahal apalah arti materi yang tak seberapa dibandingkan nilai historis dan arsitekturnya!!!” Lalu, apa gunanya semua penyesalan itu, apabila nasi telah menjadi bubur...
Semoga jeritan keprihatinan ini ada pihak terkait yang mendengarkan. Amin.

Bogor, 9 Desember 2008